I decide to resign..
Why?
Here are the following reasons:
- Saya percaya rezeki datang dari Allah.. *dengan tetap berusaha terntunya, berusaha dalam bentuk apapun
- Secara matematis, rasanya pemasukan saya saat bekerja di luar akan bernilai sama dengan nol. Karena bilamana saya bekerja, saya akan mengeluarkan uang untuk: menyewa pengasuh untuk anak saya, membeli peralatan ini itu untuk anak saya sebagai ‘pengganti’ saya di rumah (walau saya tahu segala fasilitas itu tidak senilai dengan presensi saya di hadapan anak, tapi entah kenapa semua ibu bekerja cenderung melakukannya), membeli botol ASI sebanyak-banyaknya (karena tetap saya berprinsip NO SUFOR “human’s milk for human’s kids”).
- Masih berkaitan dengan hitungan matematis. Kalau saya di rumah, saya akan punya waktu buanyaaak untuk berkreasi. Alhamdulillah saat ini saya sudah membuat 3 buah mainan edukasi dan satu kaos aplikasi untuk Azfa. Lumayan menghemat.. hehee..
- Pasti akan repot banget memerah ASI pada dini hari, menandainya, dan menyimpannya di freezer, dan rutinitas ini harus berlangsung sampai at least 2 tahun??. Gosh.. saya ga pintar memerah… peghel.. >_<
- Don’t wanna miss my kids’ golden moment. Rasanya bahahahahagiaa banget bisa liat Azfa tengkurep untuk pertama kali, ya hanya saya dan bukan yang lain. Saya akan menikmati fase-fase selanjutnya, duduk, merangkak, berdiri, berjalan lalu berlari.. kemudian.. kemudian.. Semoga bisa terus bersamanya..
- I’m an entrepreneur. Yup, sebagai seorang wanita, gak mungkin lah sepanjang hidup mendedikasikan diri untuk bekerja. Ada batasan usia serta kemampuan dimana seorang wanita harus berhenti. Belajar menjadi pedagang tanpa harus keluar. Oo.. online business, I luv u so.. heuheu.. $_$
- Cepat langsing *lho??* Rutinitas kantor membutuhkan otak saya untuk bekerja, saya tinggal duduk, berpikir, lalu menulis. Sedangkan di rumah banyak aktivitas menyenangkan yang saya kerjakan: masak, mencuci, berbenah. Lelah? Gak juga.. Melihat senyuman manis anak juga langsung hilang lelahnya. Ditambah suami yang selalu bahu membahu mengerjakan pekerjaan rumah, alhamdulillah.
- Sebagai pendidik, tau banget deh saya polah anak-anak yang di asuh tanpa ibu nya.. *geleng-geleng kepala
dan saya gamau anak-anak saya nanti seperti mereka… - Saya bisa menghabisakan waktu untuk belajar dan bergaul.
- Mendalami berbagai karakter: istri, bunda, chef, tukang cuci, sampai jadi OG. Hehee.. Tapi yang paling seru jadi pendongeng dan detektif di sela-sela waktu main Azfa. It’s really fun!
Selain kesepuluh point di atas, ada banyak lagi alasan lainnya, tapi saya rasa sepuluh saja sudah cukup mewakili. Sekedar sharing aja sih, kalau ada yang keberatan silahkan. Masing-masing memilih cara dan sudut pandang yang berbeda. Kalau saya, karena hidup saya bukan hanya untuk saya sendiri, tapi juga untuk keluarga, dan saya tidak membicarakan uang, melainkan waktu. Tik-tok, waktu takkan kembali teman, saya tidak ingin menyesal dan menoleh ke belakang dengan berurai air mata.. *halah























blognya bagus >,< ga kayak blog sebelah. ahak..
but, i appreciate to my mom.. karena ibuku juga pekerja dan juga pendidik di rumah.. hiks.. ibu… kangen .. T__T
aku dukung housewive 100%.. ibuku juga udah mau pensiun kaa.. hhheheheh
blog sebelah mana ya?
Suatu keputusan yang bijaksana yang dilihat dari tugas seorang ibu…yang secara kodratnya harus merawat anaknya
salam kenal
Reason sing paling penting is the Anak.
Selamat memperhatikan perkembangan anak dengan baik
Salam kenal,
Outbound
subhanallah
nice post,
maksih untuk motivasinya ..
judulnya kok kayak internet meme yg tenar belakangan ini: I used to be an adventurer like you, but then I took an arrow in the knee
yah, saya sebagai casual person memahami apa yang dipilih akhwat² yang memutuskan untuk bener² obey the fundamental of faith