Fitrah Seksualitas #Day10

Posted: October 3, 2018 in Uncategorized

Presentasi kelompok terakhir

Group MUDSAY..
(Ibuk-ibuk MUDa penuh kasih SAYang)

Tanya Jawab

Bund… mo tanya doooonkkk…

Kenalan dolo deh sebut saja saya mak ijah

Dimateri dijelaskan ttg “Penanaman Adab Terhadap Anak”

Nah… klo kasusnya seperti saya yg blm mempunyai privasi kamar ortu yg klo tidur pun keroyokan ber-5 sekasur tp kadang ayahnya yg ngalah sih pindah ke kasur depan scr sempit ye sekasur ber-5  itu bagaimana yak? Apakah disitu ada penyimpangan atau keterlambatan dalam menanamkan adab tersebut tadi?

#mohon pencerahannya ya bunda2 keceeehhh…

Bismillah..

Apabila anak itu belum tamyiz tidak mengapa tidur dengan orang tuanya.

Jk anaknya sudah tamyiz tp bellum baligh pun tidak mengapa tidur dengan orang tuanya tp harus diusahakan terpisah tidurnya.

Jk anak sudah baligh dan sudah tamyiz makan harus berpisah tidur dgn orang tua dikarena didalamnya terdapat hal yg bisa membangkitkan syahwatnya dan dia akan melihat berbagai kejelekan. Allohu ‘alam

Untuk kondisi anak tidak bisa pisah kamar dgn ortunya,. Bisa disiasati dgn pisah tempat tidur.

Jd misal skrg ada ranjang besar untuk tidur bersama, mulailah dari membeli kasur kecil untuk anak.,jd anak masih 1ruang bersama kita. Awal Tidur masih bareng2 tp saat anak terlelap pindahkan dia ke kasurnya.. dan sounding perlahan saat dia mau tidur jk adik saatnya tidur terpisah dgn ayah ibu karena adik semakin besar., agar pertumbuhan adik bisa maksimal.

Atau untuk kasus mak ijah bisa yg mengalah ortunya.,anak2 sudah terlelap pindah ke kasur lain dalam 1 kamar atau beda kamar lebih baik jk memungkinkan.

Jk ga bisa beda kamar.,untuk ranjang orangtua bisa di skat dgn kain gordyn/sejenis kain pembatas yg digantungkan dan bisa di tarik jk sedang tidak digunakan. Krn adab yg utama dalam hubungan suami istri memang baiknua tertutup dari anak2 walaupun dgn skat kain/lemari.

Apakah disana ada penyimpangan atau keterlambatan dalam penanaman adab?

insyaAlloh klo penyimpangan adab tidak.,tp mungkin ada keterlambatan. Anak2 sewajarnya mulai diajarkan untuk berpisah kamar mulai umur 3th,. Diharapkan 5th sudah bisa tidur sendiri tanpa ditemani orangtua.

(Sumber : Buku anakku ! Sudah tepatkah pendidikannya? Mushtofa al ‘adawi)

mba Yeni

Assalamualaikum mba dian

Mau tanyak:

Bagaimana solusi nya menurut anda,,jika kondisi rumah yang tidak memungkinkan untuk pisah kamar (rumah hanya sepetak) sedangkan anak sudah 7 tahun sehingga adab tersebut bs berjalan dengan semestinya?
Tengkyuuu

JAWAB :

Sama dgn pertanyaan no.1
Menambahkan saja..

Anak perempuan lebih diprioritaskan dalam memiliki kamar sendiri jk sudah baligh dan tamyiz, karena daerah aurat perempuan lebih banyak dan perempuan lebih sensitif dan pemalu.

Sedangkan anak laki2 bisa tidur dimana saja (contohnya: ruang keluarga/ ruang tamu)

(Sumber : Pernik-pernik Rumah Tangga Islami, ust.Cahyadi)

link ini bs jd refrensi ttg tips and tricks tuk pisah kamar anak

Mungkin bisa ditambahkan link ini untuk kiat2 pisah kamar.

https://free.facebook.com/notes/yuk-jadi-orangtua-shalih/bagaimana-cara-memisahkan-tempat-tidur-anak/10150138599300700/?_rdc=1&_rdr

 Idealnya dimulai latihan dr 3y. Atau saat mulai sapih. Karena pisah kamar gak ujug2 langsung bisa. Apalg klo sebelumnya udah betah sekamar sama ortu.

Memang agak beda budaya Asia dan barat. Di barat mereka sdh membiasakan pisah kamar dr bayik

‬Assalamualaikum Mba Dian n team

Saya totoro mau numpang nanya sbb:

Bagaimana menyikapi anak yg tidak diajarkan adab dalam keluarga, karena di dalam keluarga tsb membebaskan segalanya (dengan kata lain tugas ortu hanya membesarkan anak tp tidak memiliki ilmu)
 Bila itu tetangga kita maka penuhi hak hak tetangga seperti

1. Tidak mengganggu

2. Menjaga dari org yg ingin berbuat jahat

3.Bergaul dengan baik kepadanya

4. membalas kekasarannya dgn lemah lembut
Sumber: Tarbiyatul Aulad h. 230
 Point 3 dan 4 tetap bersikap baik dan mungkin mereka belum tahu ilmu mendidik anak, perlahan dan sedikit sedikit sebagai org terdekat misalnya sering berbagi kebaikan sehingga mereka berempati dan perlahan lahan mau diajak kpd kebaikan

Dan doakan orangtuanya mbk. Karena kekuatan doa luar biasa, seperti mengayuh sepeda, pelan tapi pasti sampai tujuan.

Tambahan dari pengalaman mbk Yessy

Ini aku ngalamin banget

Salah satu cara mensiasatinya ketika anak tsb main ke rumah, kita ajarin anaknya, kyk mau masuk rumah salam dulu, mau buka kulkas ijin dulu, mau ambil mainan bilang dulu dan beresin lagi setelahnya.

Trus kalo lagi main ke rumah temennya, kita pesenin dulu ke anak kita hal2 tsb di atas tadi, kalo temennya ngajak main di dalem kamar ortunya, anak kita gak boleh ikut masuk.

Kalo anak terpaksa main di kamar anak temennya krn mainan atau buku disana semua, pintu harus selalu terbuka dan sering2 ditengokin.

#Fitrah_seksualitas

#game_level11

Advertisements

Fitrah Seksualitas #Day9

Posted: October 2, 2018 in Uncategorized

Alhamdulillaah.. akhirnya sampai pada giliran kelompok saya untuk melakukan presentasi dengan tema Peran Orang Tua dalam Menumbuhkan Fitrah Seksualitas Anak. Presentasi dibuka dengan menyaksikan film pendek bersama.

Masing-masing partisipan mengekspresikan perasaannya ketika melihat film pendek ini, dan hampir semua yang berkomentar merasa tercengang akan akibat dari fatherless ini.

Lalu, presenter masuk dengan memperkenalkan semua tim.

Kemudian selanjutnya masuk ke materi inti di link steller dan juga versi PDF nya.

TANYA JAWAB
🌸Neneng
Boleh minta dijabarkan letak perbedaan & tindakan pada kedua pendapat tersebut?
*JAWABAN*
Pandangan John Locke (Empirisme)
Menurut beliau bahwa anak lahir ke dunia ini seperti kertas kosong (putih) atau meja berlapis lilin (tabula rasa) yang belum ada tulisan di atasnya. Kertas atau meja tersebut bisa ditulisi sekehendak hati yang menulisnya, dan lingkungan itulah yang menulisi kertas kosong putih tersebut. Menrut teori ini, kepribadian berdasar kepada lingkungan, yaitu lingkungan tidak berjiwa yang meliputi benda(benda mati, seperti tanah,air, batu, dan sebagainya, dan lingkungan berjiwa yang meliputi manusia, hewan, dan tumbuhan.Paham ini sejalan dengan paham Helvatus seorang filsuv yunani, yang berpendapat bahwa manusia dilahirkan dengan jiwa dan watak yang hampir sama,yaitu bersih dan suci. Pendidikan dan likunganlah yang akan membuat atau membentuk anak tersebut sesuai yang diinginkan. Selain itu teori ini sependapat dengan ungkapan Claode Adrien Helvatius yang mengatakan lingkungan dan pendidikan dapat membentuk manusia kearah mana saja yang dikehendaki pendidik. Teori ini sejalan dengan teori behavioristik, dalam behavioristik ada tiga teori, yaitu stimulus dan
respons conditioning, dan reinforcement.
*kelompok teori ini berangkat dari asumsi, bahwa anak tidak memiliki pembawaan potensi apa-apa pada kelahirannya.*
Sedangkan sudah jelas Allah berfirman dalam *Surah (Ar-Rūm):30* – _Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,_
Dan dalam hadish shahih
قال النبي صلى الله عليه و سلم ( كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه
“Setiap anak
dilahirkan dlm keadaan fitrah (Islam), maka kedua orang tuanyalah yg menjadikannya Yahudi, Nashrani atau Majusi.” (HR. al-Bukhari&Muslim)
🌸Yeni
Bagaimana cara mendidik anak dengan status single parent agar tidak terjadi penyimpangan pada anak ?
*JAWABAN*
Sungguh tangguh para ibu atau para ayah yang sedang berjuang sendiri dalam membersamai anak…
Kalau dr bbrp kajian FBE bersama ust harry santosa bahwa tak bisa seorang ibu berperan menjadi seorang ayah sekaligus atau sebaliknya dalam hal menumbuhkan fitrah seksualitas.
Menguatkannya jika dalam kondisi demikian, maka :
1. Bergabunglah dengan komunitas pendidikan. Misal komunitas home education. Agar anak tak kehilangan figur ayah/ibu.
2. Jika anak sudah usia 7 ke atas, sesekali boleh dititipkan 1 atau 2 malam pada keluarga sholih yang kita sudah sepaham ttg pendidikan anak. Usia 10 tahun bisa di magangkan di keluarga sholih. Keluarga sholih , yg punya pemahaman yg sama dengan kita ttg penumbuhan fitrah seksualitas.
3. Cari sosok pengganti (bisa paman, bibi, atau kakek, nenek).
Yang terpenting anak tidak kehilangan contoh/teladan sbg ayah/ibu.
🌸Nurjannah
🤧🤧🤧 hadeehh…
Jadii… Berhubung hari ini ada materi pendampingan org tua…
Gw tanya dong…
“Alhamdulillah dlm rmh sy sama pasangan g ada mslh yg berarti, kita kompak kecuali perihal kentut yg masih semena2 buangnya…
Tapi sy dicoba dgn sosialisasi diluar, yg bbrp kali Alhamdulillah diangkat jadi ketua tapi tertekan akhirnya melepaskan diri, Sekarang lagi..makin seperti org yg gak jujur, g bs pny pendirian, Krn dipaksa keadaan…
Bgmn nasib anak2 yg lihat emaknya begini??
Kl tiap saya ikut komunitas trus sll mundur Krn masalah??
Apa akan ada efek negatif mereka memandang emaknya?
Efek samping apa yg terburuk yg bisa terjadi sama mereka??
🤧🤧🤧🤧 Makasih ya emaakk SIX Asyiiikkk”
*JAWABAN*
Bismillaah,
Saya coba memahami pertanyaan dari mak eun. Boleh dikoreksi bila kurang tepat yaa mak eun..
Disini maksudnya, mak eun merasa kesulitan dan kerap bertemu masalah ketika beraktivitas publik. (Aktivitas publik disini bukan hanya bagi ibu yang bekerja tetapi juga saat ibu menceburkan diri dalam kegiatan sosial atau lainnya). Masalah ini mau tidak mau terbawa ke dalam perasaan serta aktivitas domestik, yang suka atau tidak suka akan disaksikan oleh anak dan suami.
Saat membaca ini, terlintas materi ibu professional saat kita masih duduk di kelas matrikulasi. Ketika itu disampaikan bahwa ketika kita berperan dalam aktivitas publik, namun ternyata kita tidak mampu memanage-nya dengan baik hingga terbawa ke ranah domestik, maka bisa dipastikan ada sesuatu yang salah.
Langkah terbaik adalah dengan keluar dari ranah publik dan fokus dahulu dalam domestik. Sampai bisa dipastikan dalam diri ini bahwa apapun yang terjadi diluar tidak berpengaruh apapun pada rasa dan polah kita.
Bukan berarti tidak boleh ambil bagian dalam beraktivitas sosial. Boleh, dan itu bagus. Hanya saja, ketika badai menerpa, siapkah kita untuk menghadapinya dan tidak lari?
Adapun bergaul dalam masyarakat, itu sangat dianjurkan.
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menganjurkan kita untuk bergaul dengan manusia dengan akhlak yang baik :
اتَّقِ اللهَ حيثُما كنتَ ، وأَتبِعِ السَّيِّئَةَ الحسنةَ تمحُها ، و خالِقِ الناسَ بخُلُقٍ حَسنٍ
“bertaqwalah engkau kepada Allah dimanapun berada, dan perbuatan buruk itu hendaknya diikuti dengan perbuatan baik yang bisa menghapus dosanya, dan pergaulilah orang-orang dengan akhlaq yang baik” (HR. At Tirmidzi 1906, dihasankan Al Albani dalam Shahih Al Jami, 97).
Namun ketika kita menemukan kemunkaran yang mana kita tidak dapat merubah dengan tangan dan lisan. Maka kita cukup doakan, jangan sampai kita ikut terseret ke dalamnya. Bila sudah ada tanda-tanda seperti itu, maka keluarlah dan carilah aktivitas yang lebih baik. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran” (QS. Al Maidah: 2).
Dan ingatlah bahwasanya kita dianjurkan pula untuk bersabar terhadap gangguan manusia. Sebab di bumi manapun kita bepijak, hal semacam ini pasti ada dan tak terelakkan.
Diantaranya juga sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:
المؤمنُ الذي يخالطُ الناسَ ويَصبرُ على أذاهم خيرٌ منَ الذي لا يُخالطُ الناسَ ولا يصبرُ على أذاهمْ
“Seorang mukmin yang bergaul di tengah masyarakat dan bersabar terhadap gangguan mereka, itu lebih baik dari pada seorang mukmin yang tidak bergaul di tengah masyarakat dan tidak bersabar terhadap gangguan mereka” (HR. At Tirmidzi 2507, Al Bukhari dalam Adabul Mufrad 388, Ahmad 5/365, syaikh Musthafa Al ‘Adawi mengatakan hadits ini shahih dalam Mafatihul Fiqh 44)
Jadi, meski kelak harus keluar dari ranah publik, tetap jadikan akhlak sebagai hiasan muamalah terbaik..
Wallahu’alam
Referensi:
🌸Nurjanah
pagi grup sixseeh..
aku mau tanya soal kepengasuhan orang tua,, secara teori aku tahu lelaki adalah kepsek,, penentu kebijakan dan teladan di dalam rumah.. tapi karena kecenderungan karakter yg tertukar,, akhirnya terjadi pola keteladanan yg tertukar (bingung jelasinnya🤣🤣).. misalnya saya lebih tegas dibandingkan ayahnya,, saya lebih full power dibandingkan ayahnya..istilahnya sy berada di posisi tega n sering bgt ayahnya minta bantuan krn anaknya malah ga ngedenger dibandingkan ibunya yg bicara..
ada dampak kah kedepannya?
soal pertemanan juga,, karena anakku main sama perempuan mll ( temen seusianya sebagian perempuan,, n lebih minim komplik drpada laki2).. adakah dampaknya.. n apabila dia dipaksakan berteman dengan laki2 yg tidak membuat dia nyaman.. adakah dampaknya
Kalau menurut pendapat kelompok *mom siixx assyyiiikkk* bukan kelompok ~sixseehh~
Setega2’a ibu pasti lebih tega ayah..🤭 itu mgkn menurut ambu aja..tp blm tau kn menurut anak tegaan siapa..hehe
Sebenr’a anak lbh dengerin ibu bukan berarti peran ayah tergantikan oleh ibu dan bukan berarti jg jadi *peran yg tertukar* bukan ~putri yg tertukar~..knp anak lebih mendengarkan ibu?
1. Ayah lebih cendrung mempunyai kepribadian kaku
2. Sejak kecil ibu’alah yg lebih bny menghabiskan waktu dgn anak
3. Ibu lbh peka dan tahu bagaimana perasaan anak
4. Karena bekerja ayah jarang ada dirumah.. macem bang toyyiibb 😁
5. Ibu cenderung menjadi pelindung saat ayah marah
Sumber..
anak.
Untuk pertemanan dgn perempuan seperti’a tdk berpengaruh bny apalagi msh kecil..krn dulu pun aq tmn’a anak laki smwa..hehe
Yg lebih berperan penting memang ayah n ibu’a..jd di rumah harus sudah di perkuat fitrah seksualitas’a.. jadi gangguan2 dr luar insyaAllah hempas..jng lupa jg selali berdoa sama Allah untuk minta perlindungan dan menjadikan anak2 yg sholeh/hah..krn kekuatan doa orgtua tiada banding’a..
Wallahua’lam
🌸Frisdayani
Mommy-mommy Six Asyiikkk… aku mommy wonder woman mauu nanyaaakk duungss🤭
1. Contoh kedekatan atau kelekatan anak perempuan dengan ibunya seperti apa ya?
2. Apa yang salah ketika seorang Ibu dinilai lebih jahat dari ayahnya? Walaupun si ibu menangis karena ayahnya.
Untuk memperbaikinya bagaimana?
*JAWABAN*
1. Sebelum masuk ke contoh kelekatan, ada baiknya kita samakan bersama pemahaman tentang kelekatan itu sendiri.
Kelekatan merupakan suatu ikatan emosional yang kuat yang dikembangkan anak melalui interaksinya dengan orang yang mempunyai arti khusus dalam kehidupannya, biasanya orang tua (Mc Cartney & Dearing, 2002 dalam Eliasa, 2011).
Kelekatan bukanlah ikatan yang terjadi secara alamiah. Ada serangkaian proses yang harus dilalui untuk membentuk kelekatan tersebut.
Menurut Jacobson dan Hoffman (1997) dalam Papalia, Olds & Feldman (2009), bila anak mendapatkan dasar aman dan dapat mempercayai respon orang tua, mereka akan merasa cukup percaya diri untuk melibatkan diri dari dunia mereka secara aktif. Anak dengan kelekatan tidak aman cenderung akan menunjukan emosi negative (rasa takut, distress, dan marah), sementara anak dengan kelekatan aman terlihat lebih ceria (Koshanska, 2002 dalam Papalia, Olds & Feldman, 2009).
Jadi semenjak dalam buaian, rangkaian proses itu dimulai. Dan anak perempuan yang tumbuh lekat dengan ibu dan ayahnya di masa yang tepat akan menjadi anak perempuan dengan fitrah seksualitas yang utuh. Seperti bermain dengan mainan anak perempuan, memakai pakaian dan faham akan batasan aurat hingga mengerti dan memiliki referensi sendiri tentang pasangan hidupnya kelak.
2. Ibu dinilai salah oleh anak padahal ibu menangis karena ayah..
Mungkin karena seorang ibu tidak dapat menyembunyikan perasaannya sebaik ayah. Laki-laki bagaimanapun masalah yang menerpa adalah penyimpan rahasia terbaik, ia tidak akan mudah membeberkan masalah hanya dengan gesture atau ucapan. Sementara ibu, sekuat apapun ia, masalah itu akan membentuk dirinya. Bagaimana ia bersikap itu akan secara reflek ditampakkan dan berimbas pada anak.
Sementara anak yang tidak tahu menahu apa yang terjadi di baliknya, hanya melihat apa yang tampak. Ibu yang selalu saja marah-marah setiap kali bermasalah dengan ayah hingga terbentuk stigma bahwa ibu lah yang sepenuhnya salah.
Bagi anak yang masih kecil, hal ini akan menjadi pengalaman buruk bahkan bisa menjadi trauma. Kelekatan yang sudah dibangun bisa saja hancur dan tiba2 dalam pikiran mereka tertanam keburukan2 ibu. Efek ini bila tidak diperbaiki akan terus berakar hingga anak dewasa.
Sebaiknya ibu setelah introspeksi dan bicara dari hati ke hati dengan ayah, transparan bila memang dirasa ada yang tidak nyaman dalam hubungan keduanya.
Wallahu’alam
🌸Mariska
aye juminten numpang nanya:
1. Cara mengajarkan anak laki2 dan perempuan sesuai ajaran AlQuran dan Sunnah?
2. Bagaimana cara mengatasi anak2 yang sedang mencari jati diri yang terkadang / sering bertentangan dengan ortu maupun AlQuran dan Sunnah?
maap mepettt bgt karena baru baca pagi ini materinya 🙂
*JAWABAN*
Tahapan mendidik anak menurut Islam
Al-Quran dan As-sunnah telah memberikan panduan yang jelas dalam mendidik anak, ada keberkahan bagi setiap muslim apabila mengikuti petunjuk Rasullulah.
Lewat Al-quran dan hadist, Rasullulah telah memberikan panduan bagaimana cara mendidik anak dalam islam, sesuai dengan posisi dan tanggung jawab masing masing. Terdapat hak antara orang-tua terhadap anak maupun anak terhadap orang tuanya. Dalam mendidik anak secara Islam, orang tua perlu memahami posisi anak dalam keluarga yakni;
Anak sebagai amanah bagi kedua orang tuanya
Anak sebagai investasi akhirat
Anak sebagai penghibur dan perhiasan bagi orang tuanya
Anak sebagai ujian bagi kedua orang tuanya
Untuk menghasilkan anak yang Allah ridha akan dirinya sehingga orang tua pun memperoleh keberkahan dari hadirnya sang anak ditengah keluarga, cara mendidik anak menurut Islam perlu merujuk pada pesan pesan Rasullulah dimulai dengan;
1. Mengisi Anak dengan Iman
Mengenalkan dan mendidik anak tentang Tauhid lebih didahulukan dari pada mengenalkannya pada Al-quran dan As-sunnah. Mengisi iman lebih dahulu adalah pondasi awal sebagaimana Rasullulah mengisi Iman kedalam dada dada para sahabat yang tidak lain adalah generasi terbaik dari semua generasi yang ada. Apabila Iman telah diisi maka setiap dibacakan Al-quran dan As-sunnah maka akan semakin tebal Imannya.
Rasullullah SAW bersabda: “Bukalah lidah anak-anak kalian pertama kali dengan kalimat “Lailaha-illaallah”. Dan saat mereka hendak meninggal dunia maka bacakanlah, “Lailaha-illallah”.
Sesungguhnya barangsiapa awal dan akhir pembicaraannya “Lailah-illallah”, kemudian ia hidup selama seribu tahun, maka dosa apa pun, tidak akan ditanyakan kepadanya.” (sya’bul Iman, juz 6, hal. 398 dari Ibn abbas)
2. Mendidik Anak Tentang Sholat
Dalam kitab Imam al Baqir dan Imam ash Shadiq ra menerangkan bagaimana seharusnya kita mengenalkan dan mendidik anak tentang salat. Dimulai dengan :
Setelah anak usia 5 tahun dan telah memahami arah, maka coba tanyakan mana bagian kanan dan kirinya. Lalu ajarkan padanya arah kiblat dan mulailah mengajaknya salat.
Pada usia 7 tahun mulai biasakan ia untuk membasuh muka dan kedua telapak tangannya dan minta padanya untuk melakukan salat.
Tata cara berwudhu secara penuh mulai diajarkan pada usia 9 tahun. Kewajiban untuk melakukan salat serta pemberian hukuman bila meninggalkannya sudah dapat di terapkan pada usia ini. Karena pada usia ini anak biasanya sudah pandai memahami akan urutan, aturan dan tata tertib.
amalan lainnya serta menerapkannya
Saat anak sudah mendekati usia baligh, maka orang tua perlu mengenalkannya pada shaum (menahan hawa nafsu / puasa lahir dan batin) serta mewajibkan salat. Selain dari itu juga ditekankan untuk mencari ilmu agama, menghafal Al-Qur’an yang apabila tidak mampu maka perintahkan padanya untuk mencatat.
Cara mengatasi sikap perilaku anak yang sedang mencari jati diri yang kadang bertentangan dengan orang tua maupun Al-Quran dan Sunnah yaitu dengan menjadi teman yang baik dan nyaman baginya, dengarkan semua ceritanya dengan sepenuh hati kemudian berikan jawaban2 ataupun saran berdasarkan pengalaman ortu sebagai orang yang lebih dulu mengalami hal-hal yang dialaminya, ceritakan pengalaman2 yang mirip2 dengan kondisinya dan kisah orang-orang lain yang sukses dengan passion nya.
Boleh juga dengan mengajak mereka menyelami dirinya sendiri, mengenal kelebihan kekurangannya, serta potensi bakat yang ada di dirinya, konsultasi dengan ahlinya/bidang konseling, dan diarahkan kepada aktivitas2 positif yang juga mereka sukai, orang tua mendukung, dan Allah ridhoi.
🌸Umi Kulsum
Ada cerita, anak perempuan yang ditinggal meninggal ibu kandungnya pdhl saat itu ia sangat butuh peran ibu. Bapak berinisiatif untuk menikah lagi agar bisa mencarikan Sosok ibu untuk anak perempuan tunggalnya. Namun anak tersebut gak mau menerima, msh ada perasaan sayang ke Almarhumah bundanya dan gak mau digantikan dengan yang lain.
Bagaimana peran kosong ibu ini dpt digantikan?
Mengingat keluarga nya (bulek/budhe nya jauh).
Mohon bantuannya ya mah..
Makasih 💐
*JAWABAN*
Kalau kami ambil kesimpulan, memang anak tsb belum menerima adanya kehadiran seorang wanita baru pengganti kedudukan ibunya. Dampaknya ke berbagai hal, pembelajaran tdk fokus, banyak main keluar, mencari perhatian lebih dari sosok lelaki lain yg mungkin dianggapnya ia bukan mengalami kekokosongan sosok ibu, namun jadinya kehilangan sosok ayah juga dalam hidupnya.
Mungkin bisa disikapi dng:
1. Ayah tetap sendiri sementara waktu hingga anak siap menerima sosok wanita baru pengganti kedudukan ibunya (bila kondisi ayah blm menikah lagi)
2. Bila ayah sdh menikah lagi, bicara dari hati ke hati antara ayah dan anak perempuannya, sampaikan permohonan maaf atas sikap yg diambilnya karena dengan beberapa alasan, percayakan dan yakinkan dirinya bahwa menikah lagi bukan berarti melupakan ibunya. Ajak anak berkunjung ke makam ibunya, ajak anak untuk mendoakan ibunya setiap kali selesai sholat fardhu berjamaah. Terakhir, sampaikan terima kasih kepada anaknya yang mau memahami kondisi saat ini dan menerima kehidupan baru mereka.
Yang sudah hilang tidak dapat tergantikan dengan apapun. Begitupun raga yang telah mati tidak dapat bangkit lagi. Ruh yang telah pergi selamanya tidak akan kembali.
Rasa sayang kita, apakah juga harus pergi?
Tidak perlu. Rasa sayang itu tetap harus disana.
Yang kita harus tanamkan adalah keyakinan bahwasanya Allah Dzat yang Maha Menciptakan sekaligus Mematikan tentu memiliki maksud dibalik setiap perkara yang ada.
Renungkanlah …
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ
“Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan menguji mereka. Barang siapa yang ridho (terhadap ujian tersebut) maka baginya ridho Allah dan barang siapa yang marah (terhadap ujian tersebut) maka baginya murka-Nya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah At Tirmidzi berkata bahwa hadits ini Hasan Ghorib)
Maka tanamkan kepadanya bahwa yang dapat di lakukan sebagai anak shalih adalah mendoakan. Hanya doa yang dapat sampai pada orang tua yang telah tiada. Maka sampaikan rasa sayang dengan cara yang demikian.
Tidak perlu meratap dan bangunlah dari kenyataan. Masa sekarang ini dihadapi dan jangan lari. Terima dan hadapi dengan bijak.
🌸Liz
Dalam bab pendidikan seksualitas disebutkan bahwa seksualitas yg benar patokannya adalah Syar’iah.
Bagaimana cara orangtua mengenalkan organ vital baik anak laki2 dan perempuan secara syar’iah. Agar tidak bertentangan dengan budaya barat.
Sebagaimana kita ketahui pendidikan seks ala Barat yang lebih menekankan pada pengenalan organ-organ vital berikut fungsi-fungsinya secara vulgar. Pendidikan ala Barat ini dalam implikasinya menimbulkan rasa ingin tahu yang terus meningkat dalam diri anak-anak.
Rasa ingin tahu yang tidak pernah puas dibarengi dorongan naluri akibat pertumbuhan hormon yang meningkat seiring pertambahan usia, membuat anak-anak kita terjerumus pada pergaulan bebas.
Sementara Islam mengajarkan pendidikan seks dengan cara yang lebih santun dengan menekankan pentingnya menjaga kehormatan diri dan mengenalkan perbedaan gender pada anak sejak dini.
Dalam hal ini, pendidikan seks pada anak menjadi tanggung jawab orangtua, yang harus memberikan arahan, pengetahuan dan pemahaman secara menyeluruh sesuai syariat.
Dengan demikian orangtua dituntut untuk memiliki kepekaan, keterampilan dan pemahaman agar mampu memberi informasi dalam porsi tertentu, sehingga tidak membuat anak semakin bingung dan penasaran.
Sumber Pendidikan Seks Untuk Anak : Kapan Harus Dimulai? – theAsianParent
Dalam islam, kita mengenal batasan aurat.
Berbicara aurat anak kecil berarti berbicara tentang tugas orang tua kepada anaknya. Kapan anak itu harus ditutupi auratnya dan bagaimana batas aurat yang wajib ditutupi sesuai jenjang usianya.
Ada beberapa dalil yang dijadikan pendekatan oleh para ulama untuk menyimpulkan tentang batasan aurat anak kecil.
Pertama, firman Allah Ta’ala,
أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ
“Atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita..” (QS. an-Nur: 31)
Ayat ini menunjukkan bahwa anak kecil – yang belum tamyiz – belum mengerti aurat wanita.
Kemudian disebutkan dalam hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِى الْمَضَاجِعِ
“Perintahkan anak kalian untuk shalat ketika mereka sudah berusia 7 tahun. Dan pukul mereka (paksa) untuk shalat, ketika mereka berusia 10 tahun, serta pisahkan mereka -antara anak laki dan perempuan- ketika tidur.” (HR. Abu Daud 495 dan dishahihkan al-Albani).
Ada 2 usia dalam hadis di atas, usia tujuh tahun yang mulai diperintah menjalankan shalat. Dan usia 10 tahun yang sudah harus dipaksa untuk shalat dan tidurnya dipisahkan dengan saudaranya yang lawan jenis.
Berdasarkan hadis di atas, ulama hambali memberikan rincian,
[1] Anak yang usianya di bawah 7 tahun, tidak ada aurat. Dalam arti, orang tua atau orang lain boleh melihat auratnya, termasuk kemaluannya.
[2] Usia 7 sampai 10 tahun. Jika laki-laki batas auratnya adalah aurat besar, kemaluan depan dan belakang. Jika anak perempuan auratnya antara pusar sampai lutut.
[3] Di atas 10 tahun, auratnya sama dengan orang dewasa.
Jadi, pengenalan organ vital yang disebut sebagai aurat menggunakan bahasa yang lebih santun sebab islam mengedepankan rasa malu.

Fitrah Seksualitas #day8

Posted: October 1, 2018 in Uncategorized

Fitrah Seksualitas Orang tua VS Anak, Manakah yang harus Lebih dulu dijaga?

halaman:

1⃣ Cover.

2⃣
Pengertian
Fitrah seksualitas : bagaimana seseorang berfikir, merasa dan bersikap sesuai fitrahnya sebagai laki-laki sejati atau perempuan sejati.

#Pada tahap selanjutnya, pengenalan yang benar terhadap fitrah ini akan menuju pada fitrah keluarga. Setelah fitrah keluarga terbangun, maka manusia yang mengenal fitrah gender/seksualitasnya dengan benar akan mampu mendefinisikan diri mereka pada peran keayahbundaan dengan tepat. (Harry Santosa, FBE).#

# Fitrah seksualitas memerlukan kehadiran, kedekatan, kelekatan anak sejak lahir sampai usia 15 tahun dengan figur ayah dan ibu secara utuh dan seimbang.#

3⃣
Perbandingan Fitrah peran Ayah dan Fitrah Peran ibu

Ayah
● konseptor visi dan misi
● pembangun sistem berfikir
● penegak profesionalisme
● The person of “tega”
● lambang maskulinitas
● sosok pemimpin
● sang pelindung

Ibu
● pelaksana visi dan misi
● ratu lemah lembut
● sang pembasuh luka
● lambang feminitas
● pembangun hati dan rasa
● berbasis pengorbanan
● pemilik moralitas dan nurani

4⃣
Mungkinkah Fitrah seksualitas orang tua bisa keluar dari jalurnya??
Apa sebabnya???
1. gaya hidup yg salah & Lingkungan yg kurang baik.
# Lingkungan yg salah bisa berupa teman2 suami atau istri yg memiliki kebiasaan buruk yg berhubungan dgn penyimpangan perilaku#

2. Trauma dengan org tua saat kecil.
# seorang ayah atau ibu yg memiliki trauma dgn org tuanya saat kecil bisa memiliki sifat buruk yg sama dgn org tuanya. Dan mengulangi kesalahan yg sama dgn pasangannya#

3. Pengasuhan yg tak seimbang
#Seorang ibu yg sangat dominan dalam rumah, sedangkan di lain pihak ayah yg sangat cuek dan hanya sibuk bekerja atau sebaliknya#

_Karena Penyimpangan seksualitas bukanlah bawaan genetis_
#Sehingga orang tua sangat mungkin utk menumbuhkan, menjaga dan membentengi anak2nya thd penyimpangan seksual#

5⃣
Untuk menghindari penyimpangan,kita harus sering berkomunikasi, ada beberapa cara komunikasi yg sesuai petunjuk Al Qur’an:
1. Qaulan Balighan (perkataan yang merasuk dan membekas dalam jiwa),
2. Qaulan Kariman (perkataan yang bermanfaat dan menjadikan pihak
lain tetap dalam kemuliaan),
3. Qaulan Maisura (perkataan yang baik, lembut, dan melegakan),
4. Qaulan Ma’rufan (perkataan yang baik dan tidak menyakitkan)
5. Qaulan Layyinan (perkataan yang lembut, meyakinkan, dan rasional)
6. Qaulan Sadiidan (perkataan yang benar, jujur dan tepat sasaran)

Dengan komunikasi dan pembiasaan di keluarga, kita berharap agar anak bisa BMM ( Berfikir, memilih, Mengambil keputusan) dengan baik.

Sehingga diharapkan anak menjadi ayah atau ibu yg sesuai dgn perannya.

6⃣
kapankah bisa dikatakan bahwa fitrah seksualitas ortu menyimpang atau keluar dari jalurnya??
– tanpa sadar memberi contoh gaya hidup salah
#contohnya biasa bepergian dengan yg bukan Mahrom atau berpakaian tidak menutup aurat#

– memperlakukan pasangan dengan buruk
#memperlakukan pasangan dengan buruk bisa mengakibatkan trauma psikis pada anak2 jangka panjang, dalam hal ini kasus2 LGBT, kekerasan seksual dan penyimpangan lain bisa diakibatkan karena hal ini.#

#saat orang tua tidak bisa menjadi contoh teladan yg baik bagi anaknya. serta tidak bisa menjalankan peran sesuai gendernya masing2, sadarlah bahwa proses menuju masalah telah dimulai#

7⃣
Kapan kah ortu memulai mengembalikan Fitrahnya yang sudah terlanjur keluar jalur?

#saat org tua mulai menyadari ada yg salah dengan situasi dan kondisi dalam keluarganya, saat itulah ia harus segera mencari pertolongan, terus belajar dan memperbaiki fitrahnya.#

#dan Pastikan kita selalu menjasi *Sumber Jawaban Pertama dan Utama* setiap kali anak bertanya tentang SEx. di tengah derasnya tantangan jaman.#
8⃣
Mengapa Fitrah seksualitas orang tua dulu yang harus dikembalikan/dipulihkan?

1. Karena sosok orang tua lah yg menjadi Role model pertama dan utama dalam kehidupan anak.
2. Juga menjadi Sosok yg akan mendidik dan membangkitkan fitrah seksualitas anak dari lahir sampai pra Aqil baliq.

Rasulullah Sholawlahu ‘alaihi Wassalam Bersabda:
_Tidaklah seorang bayi lahir kecuali dalam keadaan fitrah. Maka kedua orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi._ (H.R. Imam Bukhari)

Bagaimana jika Fitrah seksualitas ortu terlanjur keluar dari jalurnya???

“siapakah” yang dapat membantu mengembalikannya???
1. Pertolongan Allah.
#Setelah niat yang kuat dari dalam diri, kuatkan ibadah dan tetap Istiqomah, karena Hijrah itu mudah, tapi Istiqomahlah yg berat#

2. Diri sendiri
#Tetaplah optimis, karena Allah telah menginstall parenting pada tiap fitrah ayahbunda. Maka setiap malam sebelum tidur bermohonlah kepada Allah agar Ia mendidik anak-anak kita, serta mengkoreksi segala kesalahan dan kelemahan kita, sehingga kelak kita pantas untuk menjadi contoh yang baik untuk anak2 kita.#

3. Pasangan
#kita butuh atau harus menjadi pasangan yg siap mendukung dan membersamai proses kembalinya kesadaran akan fitrahnya masing2#

4. Lingkungan yg mendukung,
# dalam hal ini bisa lingkungan keluarga ataupun lingkungan sosial yg baik akan mendukung proses kembalinya fungsi fitrah org tua.

5. Orang2 yang dianggap ahli dan berkompeten dibidangnya,
#misalnya ahli parenting, psikolog. Bisa juga dengan mengikuti kelas parenting ataupun komunitas tertentu, demi perbaikan diri#

Fitrah Seksualitas #Day7

Posted: September 29, 2018 in Uncategorized

MENGGALI PENYEBAB RUSAKNYA FITRAH SEKSUALITAS ANAK

Faktor Internal:

1. Membiarkan anak mengakses internet dan media elektonik lainnya tanpa pendampingan.

Kemampuan orang tua untuk menyediakan berbagai fasilitas alat komunikasi canggih bagi anak-anak mereka sering kali tidak sepadan dengan kemampuan dan perhatian orang tua dalam memproteksi anak-anak dari potensi negatif yang ditimbulkannya. Bagi sebagian orang tua, kemampuan menyediakan fasilitas komunikasi terkini laiknya smartphone atau gadget justru menjadi ajang pamer sekaligus upaya menunjukkan eksistensi untuk menegaskan kelas sosial-ekonomi mereka sebagai orang tua yang mapan secara ekonomi.

Mereka lupa bahwa fasilitas yang diberikan itu tak ubahnya pisau bermata dua (two edges knife), yang tak hanya memudahkan anak-anak mereka mudah bersosialisasi dengan teman sebayanya, tetapi juga berpotensi menikam mereka dari belakang akibat intensitasnya mengeksplorasi isi materi dunia maya yang tidak mendidik. Melalui alat-alat komunikasi super canggih itu, anak-anak akan terjembatani untuk mengeksplorasi persoalan-persoalan sensitif, yang secara materi barangkali tidak tepat atau belum sesuai dengan jenjang umur dan level kedewasaan mereka.

2. Kurangnya peran ayah dan Ibu karena kesibukan masing-masing

Mendidik Fitrah Seksualitas adalah merawat, membangkitkan dan menumbuhkan fitrah sesuai gendernya, yaitu bagaimana seorang lelaki berfikir, bersikap, bertindak, merasa sebagaimana lelaki Juga bagaimana seorang perempuan berfikir, bersikap, bertindak, merasa sebagai seorang perempuan.

Prinsip 1 : Fitrah Seksualitas memerlukan kehadiran, kedekatan, kelekatan Ayah dan Ibu secara utuh dan seimbang sejak anak lahir sampai usia aqilbaligh (15 tahun).

Prinsip 2 : Ayah berperan memberikan Suplai Maskulinitas dan Ibu berperan memberikan Suplai Femininitas secara seimbang. Anak lelaki memerlukan 75% suplai maskulinitas dan 25% suplai feminitas. Anak perempuan memerlukan suplai femininitas 75% dan suplai maskulinitas 25%.

Prinsip 3 : Mendidik Fitrah seksualitas sehingga tumbuh indah paripurna akan berujung kepada tercapainya Peran Keayahan Sejati bagi anak lelaki dan Peran Keibuan sejati bagi anak perempuan. Buahnya berupa adab mulia kepada pasangan dan anak keturunan. (Santosa, Hary. 2017)

Untuk mencapai ketiga prinsip tersebut, dibutuhkan peran aktif ayah dan Ibu dalam mewujudkannya.

Pada prinsip pertama misalnya, fitrah seksualitas memerlukan kehadiran, kedekatan, kelekatan Ayah dan Ibu secara utuh dan seimbang. Maksudnya adalah Ayah dan Ibu harus membersamai anak seutuhnya, bukan hanya bersama dengan anak tetapi hati dan pikiran tidak seutuhnya bersama anak, seperti membersamai anak sambil main hape misalnya atau sambil melakukan pekerjaan lainnya.

Sedangkan pada prinsip kedua, Ayah berperan memberikan Duplai Maskulinitas dan Ibu berperan memberikan Suplai Feminitas secara seimbang. Bagaimana jika salah satu atau keduanya telah tiada? Maka harus ada pengganti yang sesuai untuk memberikan suplai tersebut agar fitrah seksualitasnya terpenuhi sehingga tidak terjadi penyimpangan social

Dan buah dari kedua prinsip tersebut dapat dilihat dari adab mulia mereka nanti kepada pasangannya dan anak keturunannya. Ketika peran keayahan sejati pada anak lelaki dan peran keibuan sejati pada anak perempuan tercapai, maka artinya fitrah seksualitas telah tumbuh dengan baik dan paripurna. Tetapi ketika peran tersebut tidak tercapai, artinya fitrah seksualitasnya tidak terpenuhi dengan baik dari kedua orang tuanya.

3. Inner child orang tua yg belum selesai

Inner Child 👶👧 adalah sosok anak kecil yang berada di dalam diri kita (Ego Personality). Inner child ada yang baik dan ada juga yang memang negatif atau trauma. Inner child dalam diri kita sebetulnya bisa bertumbuh dewasa sesuai usia dan pengalaman yang kita hadapi, hanya kadangkala ketika inner child negatif yang muncul dan sangat memberikan trauma butuh kesadaran penuh untuk mengenalinya dan kemudian berdamai.

Dalam pernikahan biasanya inner child muncul di satu tahun pertama, sosok kecil suami atau istri tanpa disadari muncul dengan perwujudan seperti:

👉 Istri yang semasa kecil jarang dibersamai oleh orang tuanya dan merasa kesepian sering menginginkan suaminya selalu ada di dekatnya, marah ketika suami memberikan perhatian pada keluarganya, dan ingin perhatian suami hanya kepada istrinya saja, padahal bisa jadi suami sebetulnya sudah sangat baik pada sang istri.

👉 Suami yang semasa kecil diperlakukan keras oleh kedua orang tuanya atau oleh sanak saudaranya tanpa disadari melakukan KDRT pada istrinya.

👉 Anak memecahkan piring atau merusak barang, tanpa disadari kita tiba-tiba memukul atau membentaknya.

Jika dari ketiga kasus yang di atas kemudian ada penyesalan setelah melakukannya, tapi diulang lagi dan lagi, bisa dipastikan itu inner child negatif.

Jadi, bedanya itu inner child atau karakter adalah dari rasa penyesalan yang timbul. Orang tua yg memiliki inner child yg negatif ato “menyakitkan” tentu akan berpengaruh pada cara ato pola asuhnya kepada anak2nya.

Pola asuh dengan inner child yg negatif tentu akan mengganggu tumbuh kembang anak tuk sesuai dengan fitrah.

Masih ingat dg quotes “children see children do”?

4. Kurangnya wawasan orang tua dalam mendidik anak sesuai fitrahnya

Di tengah carut marut pendidikan dan pekatnya kerusakan generasi, mereka tampil bagai kesejukan di padang sahara, bak bintang di langit yang menerangi. Mereka padahal orangtua yang biasa saja, tiada yang istimewa, hanya saja mereka adalah para orangtua yang sadar dan berani kembali kepada fitrah peran sejati untuk mendidik anak anak mereka sendiri. Para orangtua hebat ini umumnya bukan psikolog, bukan ahli pendidikan, bukan terapist, juga bukan berlatar belakang ilmu pendidikan.

Benarlah janji Allah, bahwa Allah akan memampukan mereka yang menyambut panggilanNya. RAISE YOUR CHILD, RAISE YOURSELVES.

Beberapa karakteristik mereka adalah

1. Menyambut panggilan Allah dengan ikhlash sehingga Allah berikan banyak hikmah untuk mendidik anak anaknya dan kembali mensyukuri potensi potensi fitrah dirinya dan tentu juga anak anaknya.

2. Tiada kata terlambat. Tertatih awalnya, bukan tanpa perjuangan menaklukan ketidak percayaan diri sendiri namun semakin lama semakin Allah mudahkan, semakin terkuak banyak misteri keindahan fitrah anak anaknya dan dirinya. Semakin seru dan bahagia menjalaninya.

3. Ikhlash berbagi idea, cerita, pengalaman, hikmah baik tulisan bahkan dalam bentuk buku, tentang hikmah yang mereka peroleh sepanjang perjalanannya merawat dan mendidik fitrah anak anak mereka.

4. Rajin belajar bersama dan berkolaborasi dalam komunitas dengan saling menasehati dalam kebenaran, keshabaran dan kasih sayang dalam peran mendidik. Mereka menyadari bahwa perlu berjamaah untuk memunculkan generasi dengan peran peran terbaik dan akhlak mulia.

5. Hikmah untuk tiap anak. Yakin bahwa merekalah yang terbaik bagi anak anaknya. Ilmu mereka barangkali bisa setara S3 dalam mendidik anak anaknya, karena diperoleh dari pengalaman nyata. Ingatlah bahwa tiada ahli parenting terbaik bagi anak anak kita, kecuali kita orangtuanya, karena Allah telah karuniakan hikmah yang banyak sekadar dan setara amanah yang diberikan.

6. Syukur dan shabar. Walau demikian, mereka tetaplah orangtua biasa yang bukan tanpa masalah dan kadang gelisah tetapi kini gelisahnya bukan karena lebay obsesif atau lalai pesimis, tetapi kegelisahan yang membuat mereka terus mendekat dan bersyukur atas semua potensi fitrah (jalan sukses) serta memohonkan doa pada Allah (kunci sukses) agar dimudahkan jalannya serta bershabar berinovasi menjalani peran sejatinya dengan terus belajar dan beramal (cara sukses).

7. Ubah cara pandang. Mereka memandang anak mereka sebagai karunia terindah, amanah terbaik, sahabat tercinta, kesempatan mengembalikan fitrah diri, mega proyek melahirkan generasi dengan peran terbaik untuk menjadi khalifah di muka bumi sehingga Allah ridha, dstnya. Bukankah Allah telah instal fitrah baik dalam diri anak anak mereka disamping hikmah yang banyak?

8. Rileks dan Optimis. Dengan cara pandang di atas, mereka semakin rileks dan optimis sebagai pertanda hamba yang yakin dan bersyukur, mereka semakin asik belajar dan berinovasi sebagai pertanda hamba yang istiqomah dan shabar. Hampir semua problematika anak selalu bisa diselesaikan dengan dimulai dari tenang dan optimis, sehingga bisa jernih melihat dan mendengar, merasa dan menghayati problematika kemudian menemukan pola untuk ditemukan solusi terbaiknya tanpa menciderai fitrah keduanya.

Wahai para Orangtua, jadilah bagian dari kabar dan pertanda baik bahwa dari rumah dan komunitas kita akan muncul generasi baru, generasi anak anak kita yang kelak jauh lebih baik dalam peran dan lebih mulia dalam akhlak sesuai fitrahnya. Semakin banyak orangtua hebat semakin baik generasi mendatang. InshaAllah.

5. Timpang dalam proses mendidik anak.

Penyimpangan seksualitas sangat beragam, kasusnya tidak hanya terjadi di kalangan manusia liberal namun juga terjadi pada kalangan manusia religius, karena setiap aspek fitrah adalah keniscayaan bagi manusia yang perlu disalurkan dan mendapat perhatian untuk dididik.

Ketika anak lelaki mendapat suplai feminitas dari Ibu berlebihan sedangkan suplai maskulinitas dari Ayahnya kurang, maka dia akan mengalami penyimpangan fitrah seksualitasnya misalnya menjadikan si anak lelaki tersebut “melambai” atau cenderung homo atau paling tidak berkurang kejantanannya. Pun anak perempuan yang mendapatkan suplai maskulinitas berlebih dari Ayahnya dibandingkan dengan suplai Feminitas dari Ibunya maka akan menjadikan si anak perempuan tersebut tomboy atau cenderung lesbi atau berkurang feminitasnya.

Lalu, bagaimana cara mendidik fitrah seksualitas yang baik?

Inti mendidik fitrah seksualitas adalah terbangunnya kelekatan antara anak dan orang tua serta Adanya suplai keayahan dan suplai keibuan secara seimbang tanpa adanya ketimpangan.

6. Orang tua merasa taboo dalam menjelaskan seksualitas pada anak

Di pendidikan menengah, pelajaran soal anatomi manusia memang pernah saya terima pada awal 2000-an, tetapi tidak cukup menjawab banyak pertanyaan lain soal reproduksi karena hanya sekelumit saja yang disampaikan guru dan dalam buku teks sekolah. Bertanya pada Bapak, Ibu, atau Kakak tidak pernah jadi pilihan karena kadung takut dimarahi ketika membahas hal itu. Membicarakannya dengan teman malah bisa jadi menggelikan atau memicu kecanggungan.

Contoh : saat sedang menonton tv lalu ada adegan ciuman, spontan pasti remote dimatikan ato mata anak disuruh nutup ato ditutupi. Padahal dengan begitu anak justru malah jd penasaran dan bingung.

Juga kasus saat anak kecil asik bermain dg alat kelaminnya sendiri lalu dibiarkan dengan alasan “masih kecil”

Mayoritas orang tua di Indonesia masih menganggap tabu dan tidak patut untuk menerapkan pendidikan seks kepada anak-anak mereka. Namun justru hal tersebut seharusnya perlu diubah.

Dalam hal ini, seorang psikolog Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Ratri Sunar Astuti mengatakan bahwa pendidikan seks pada anak merupakan tugas sekaligus tanggung jawab orang tua, sedangkan lembaga pendidikan atau lainnya hanya sebagai unit pendukung saja.

seiring dengan cepatnya kematangan seksual anak, tetapi pendampingan orang tua secara intensif lemah dan mudahnya akses informasi melalui media internet,” jelasnya.

Menurut Pakar Bimbingan Konseling Universitas Sanata Dharma (USD) Maria Margaretha Sri Hastuti pendidikan seks dirancang untuk mendampingi anak memperoleh pemahaman yang tepat tentang perkembangan seksual dirinya serta perkembangan pribadi dan sosial.

“Pemahaman yang tepat tentang seks dan seksualitas akan menjadi kekuatan sekaligus benteng bagi anak dari usaha-usaha pelecehan dan kekerasan seksual,” katanya.

Faktor External

1. Tinggal pada lingkungan yg tinggi tingkat pelencengan seksualitas

Setiap individu memiliki latar belakang kehidupan yang berbeda maka hal tersebut akan menyebabkan terbentuknya pola-pola perilaku yang berlainan. Tidak semua individu mampu mengidentifikasi diri dengan nilai dan norma yang berlaku di dalam masyarakat. Hal ini berarti gagalnya proses sosialisasi sehingga cenderung menerapkan pola-pola perilaku yang salah dan menyimpang

Menurut pendapat Shaw, Mckay dan mcDonal (1938), menemukan bahwa di kampung-kampung yang berantakan dan tidak terorganisasi secara baik, perilaku jahat merupakan pola perilaku yang normal dan wajar.

Dalam proses sosialisasi yang sangat berperan adalah agents of sosialization atau pihak-pihak yang melaksanakan sosialisasi. Adapun agen-agen sosialisasi terdiri atas :

a. keluarga,

b. sekolah,

c. kelompok pergaulan, dan

d. media massa.

Para agen sosialisasi menyampaikan pesan-pesan yang berbeda antara orang tua dengan lainnya. Hal-hal yang diajarkan oleh keluarga mungkin berbeda dengan yang disampaikan oleh agen di sekolah. Contoh: Perilaku yang dilarang oleh keluarga dan sekolah, seperti penyalahgunaan narkoba, pelecehan seksual, membolos, merokok, berkelahi, dan lain-lain diperoleh dari agen sosialisasi, kelompok pergaulan dan media massa.

Proses sosialisasi seolah-olah tidak sempurna karena tidak sepadan antara agen sosialisasi satu dengan yang lain. Proses sosialisasi yang tidak sempurna antara lain disebabkan oleh :

Terjadinya disorganisasi keluarga yaitu perpecahan dalam keluarga sebagai satu unit, karena anggota keluarga gagal dalam memenuhi kewajibannya yang sesuai dengan perannya. Dan peperangan.

Dalam proses sosialisasi, seseorang mungkin dipengaruhi oleh nilai-nilai subkebudayaan yang menyimpang, sehingga terbentuklah perilaku menyimpang. Contoh : seorang anak dibesarkan pada lingkungan yang menganggap perbuatan minum-minuman keras, pelacuran, dan perkelahian sebagai hal yang biasa, maka anak tersebut akan melakukan perbuatan menyimpang yang serupa. Menurut ukuran masyarakat luas, perbuatan anak tersebut jelas bertentangan dengan norma-norma yang berlaku, maka perbuatan anak tersebut dapat dikategorikan menyimpang.

Apabila pelanggaran sudah dianggap biasa, karena toleransinya pengawasan sosial, penyimpangan itu akhirnya menjadi konformitas. Contoh: perbuatan menyuap seakan-akan menjadi konformitas, dan perbuatan siswa mencontek pada waktu ulangan.

2. Pembiaran masyarakat pada masalah sosial yang terjadi di lingkungannya

Semua Berawal dari Virus Pembiaran

Parahnya kondisi akhlak masyarakat, terutama’ generasi mudanya, bisa jadi bermula dari adanya pembiaran dari kita. Ya, pembiaran dalam arti tidak adanya atau minimnya peneguran terhadap berbagai kesalahan kecil atau besar yang terjadi di hadapan kita.

Oknum orang tua membiarkan anaknya berbuat kesalahan. Oknum guru membiarkan muridnya melakukan pelanggaran. Oknum tokoh panutan agama membiarkan ummat menyimpang dari rel agama. Oknum aparat pemerintahan membiarkan rakyatnya melanggar aturan.

Fenomena sikap cuek dan kekurangpedulian inilah awal dari bencana besar yang kita rasakan saat ini. Wajarlah bilamana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan,

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَان

“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka rubahlah dengan tangannya. Bila tidak mampu, maka dengan lisannya. Bila tidak mampu, maka dengan hatinya. Dan itu adalah tingkat keimanan terlemah”. HR. Muslim dari Abu Sa’id radhiyallahu’anhu.

Pembedaan cara pengingkaran mulai dari tangan, lisan, hingga hati ini, dikembalikan kepada kemampuan dan kapasitas masing-masing kita.

Tidak membiarkan kemungkaran yang terjadi di depan mata kita, adalah sumber kebahagiaan dunia dan akhirat. Sebaliknya, pembiaran kemungkaran adalah sebab kesengsaraan dunia dan akhirat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan,

مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلاَّ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

“Siapapun yang mendapatkan amanah dari Allah untuk mengurus rakyat, lalu dia meninggal dalam keadaan khianat terhadap rakyat, pasti Allah akan haramkan baginya surga”. HR. Muslim dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu.

Beliau juga bersabda,

ثَلَاثَةٌ قَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِمُ الْجَنَّةَ: مُدْمِنُ الْخَمْرِ، وَالْعَاقُّ، وَالدَّيُّوثُ، الَّذِي يُقِرُّ فِي أَهْلِهِ الْخَبَثَ

“Tiga jenis manusia yang diharamkan Allah masuk surga. (1). Pecandu minuman keras. (2). Orang yang durhaka (kepada orang tuanya). (3). Orang tua dayyuts. Yakni yang membiarkan perbuatan dosa dilakukan oleh anggota keluarganya”. HR. Ahmad dan sanadnya dinilai sahih oleh al-Hakim.

Sebagai contoh maraknya lagu2 berbau pornoaksi atau dengan kata2 yg kurang baik kemudian dinyanyikan oleh anak2 yg mungkin mereka belum paham akan hal tersebut namun tidak ada orang tua dan orang dewasa yg mengingatkan.

Pentingnya kita sebagai muslim berbuat nyata menjadi problem solving minimal dalam lingkungan keluarga, apalagi untuk lingkungan masyarakat. Menghadirkan alternatif2 hiburan, pendidikan yg lebih bermanfaat san berakhlak terutama bagi generasi muda.

3. Kerancuan pola asuh yg kadang dialami oleh keluarga yg tinggal dalam lingkungan keluarga besar

Menurut Theresia Ceti Prameswari Psi, psikolog dari LPTUI, mempercayakan pengasuhan si kecil kepada kakek-nenek (grandparenting), di satu sisi memang menguntungkan. Kakek-nenek menjadi salah satu sumber bantuan, dukungan, dan dorongan. Mereka selalu tahu apa yang harus dilakukan jika cucunya tidak enak badan, tidak mau makan, tidak bersendawa, menangis, dan sebagainya. Masalah kasih sayang juga tak diragukan lagi. Mereka dengan sepenuh hati akan memberikan yang terbaik bagi cucunya.

Namun, kadang campur tangan kakek-nenek dalam pengasuhan anak, sering melanggar peraturan yang orangtua terapkan untuk mendisiplinkan anak.

Orang tua memang dituntut untuk menjadi pengasuh dan pendidik utama anak. Namun, ketika kakek-nenek harus ikut berperan dalam pengasuhan anak, pola asuh yang diterapkan biasanya cenderung permisif (lebih banyak memberikan keleluasaan kepada si anak untuk melakukan apa yang dikehendaki dan mendapatkan apa yang diinginkan).

Misal :

– menentukan pilihan tontonan di televisi. Bagi kakek nenek yg terpenting film kartun bukan sinetron. Padahal sekarang ini beberapa film kartun pun sudah disisipi pesan yg tidak sesuai seperti LGBT pada film Disney junior, SpongeBob dll

Selain itu, perbedaan pola asuh antara orangtua dan kakek-nenek, baik langsung maupun tidak langsung akan berdampak pada kemandirian anak. Misalnya, anak akan menjadi kurang mandiri dalam menyelesaikan tugas-tugas hariannya seperti makan, mandi, atau kurang mandiri dalam menyelesaikan masalah.

Hal ini dikhawatirkan akan menyebabkan si anak memiliki kecenderungan negatif. Bisa jadi si anak akan membantah perintah orangtua dengan berlindung pada kakek dan neneknya. Selain itu kemampuan anak dalam mengekspresikan emosinya juga terkadang menjadi kurang tepat, misalnya mudah merengek, merajuk, serta kurang percaya diri.

Nenek atau kakek biasanya kurang tegas dan kurang dapat menolak permintaan cucunya. Kalau mereka terlalu memanjakan si anak maka pola asuh yang sudah ada akan membuat si anak bingung. Oleh karena itu orangtua seharusnya memiliki keberanian untuk berbicara dengan kakek-nenek mengenai permasalahan pola asuh yang tepat.

DAFTAR REFERENSI

Fitrah Seksualitas #Day6

Posted: September 28, 2018 in Uncategorized

MENGUPAS FITRAH SEKSUALITAS DARI SISI KULTUR
Present by Kelompok 10

Arti Fitrah seksualitas

💥Menurut KBBI :
Fitrah dapat di artikan sebagai sifat asal, kesucian, bakat dan pembawaan.
Sedangkan seksualitas adalah 1.ciri, sifat, peranan seks dan dorongan seks.

💥Menurut Ust Harry Santosa
Fitrah seksualitas adalah bagaimana seseorang berpikir, merasa dan bersikap sesuai dengan “fitrahnya” sebagai lelaki sejati atau perempuan sejati.

💥Sedangkan kita sebagai orang awam kalau berbicara tentang seksualitas langsung berpikir tentang peranan seks itu sendiri.

Pentingkah untuk dibangkitkan fitrah seksualitas pd anak? Mengapa?

Sangat penting, karna pada era sekarang kejahatan seksual sudah memprihatinkan.

Tujuan diperkenalkan hal tsb adalah untuk :
🌈Supaya anak mengetahui identitas dirinya apakah ia laki laki atw perempuan.
🌈Supaya anak dpt menjalankan perannya dikemudian hari
🌈Dapat mengajarkan anak bagaimana caranya melindungi diri dari kejahatan seksual yg marak skrng ini.

Dan sangat penting bagi anak untuk mengetahui dan menumbuhkan kan fitrah seksualnya sedini mungkin oleh orang tua walaupun sebagian masyarakat sekitar masih menganggapnya adalah hal yg tabu, hal yg tdk pantas untuk di informasi kan. Oleh karena itu orang tua juga perlu bekerja sama dgn lembaga pendidikan tempat anak anak kita bersekolah agar informasi tersebut dapat diterima tak hanya oleh anak tapi juga oleh orang lain. Allah berfirman dalam surat *Ar-Rum* ayat 21 “bahwa Allah menciptakan manusia itu secara berpasangan pasangan, laki-laki dan perempuan”.

Tantangan yang dihadapi berkaitan dengan gender

Menurut Caplan (1987) gender adalah perbedaan perilaku antara laki-laki dan perempuan selain dari struktur biologis, sebagian besar justru terbentuk melalui proses sosial dan kultural. Jadi gender sangat berkaitan erat dengan kultur.

Perbedaan gender tidak akan menjadi masalah jika tidak menimbulkan ketidakadilan (Ridwan, 2006:25)

1. Ketidakadilan Gender
Budaya patriarki banyak dianut oleh bangsa-bangsa timur.
Patriarki adalah sebuah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai sosok otoritas utama yang sentral dalam organisasi sosial (Charles E, Bressler 2007)
Ketidakadilan gender merupakan salah satu dampak yang diakibatkan oleh budaya patriarki.
Wujud ketidakadilan gender :
♦Marginalisasi (meminggirkan perempuan)
♦Subordinasi atau penomorduaan
♦Stereotipe atau citra baku
♦Kekerasan
♦Beban ganda

2. Pergaulan dan perilaku seks bebas
Sebagian besar tafsiran agama barat menempatkan perempuan pada titik yang diapresiasi namun dibungkam dalam ruang yang sempit, hanya pada sektor domestik (Khemal Andrias : 2016)
Pergaulan dan seks bebas adalah salah satu bentuk perilaku menyimpang, istilah bebas yang dimaksud adalah melewati batas-batas norma yang ada.

😱 Sebanyak *63%* remaja sudah pernah melakukan hubungan seks dengan kekasihnya ataupun orang sewaan untuk memuaskan hawa nafsunya (hasil survei KPAI dan Kemenkes Oktober 2013 yang dilansir di kompasiana.com)
😱 http://daerah.sindonews.com, bahwa tercatat hingga Juni 2016 setidaknya ada 47 siswi SMA dan SMP yang hamil dan putus sekolah akibat seks bebas yang mereka lakukan.
Dari seks bebas juga bisa mengakibatkan tertularnya penyakit berbahaya seperti HIV/AIDS.

Faktor penyebab seks bebas :
⛔Kekuatan iman yang memudar
⛔Kurangnya perhatian orang tua
⛔Rasa ingin tahu yang tidak terkendali terhadap seks
⛔Tontonan tidak mendidik (internet, televisi dan gadget lain)
⛔Rendahnya pengetahuan tentang seks bebas
⛔Salah pergaulan

3. Penyimpangan seksual
LGBT juga merupakan salah satu efek dari masuknya budaya barat di era globalisasi ini. Akan tetapi menurut Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono, Guru Besar Psikologi UI, keberadaan LGBT sejatinya sudah lama melekat di simbol-simbol budaya Nusantara, diantaranya :

Reog Ponorogo
Hubungan warok sebagai pemimpin reog dan gemblak (laki-laki berparas tampan yang menaiki kuda lumping) yang biasanya berperan sebagai selir pribadi.

Budaya di suku Bugis, Sulawesi Selatan
Masyarakatnya membagi jenis kelamin dalam 5 klasifikasi. Laki-laki (oroane), perempuan (makunrai), laki-laki yang seperti perempuan (calabai), perempuan yang seperti laki-laki (calalai) dan yang tertinggi adalah bukan laki-laki juga bukan perempuan (bissu).

SOLUSI

1. Kesetaraan gender (emansipasi wanita).
Manusia (laki-laki dan perempuan) diciptakan Allah sesuai kodratnya berdasakan kelebihan & kekurangannya. Secara fisik, kodrat manusia tidaklah sekuat laki-laki, namun bukan berarti wanita memiliki perbedaan hak & kedudukan dengan laki-laki, walaupun tidak dalam segala hal. Dalam QS. An-Nahl : 97 menyatakan bahwa Allah memandang kedudukan laki-laki dan wanita sama, baik dalam hak maupun kewajiban sebagai seorang muslim. Namun tetap ada batasan dalam kesetaraan gender seperti yang dijelaskan QS. An-Nisa : 34 bahwa laki-laki berkewajiban sebagai pemimpin dan wanita perlu taat terhadap laki-laki yang menjadi pemimpin & pelindungnya.

2. Usaha menangkal seks bebas :
1. Menghindari lingkungan buruk
2. Membatasi waktu keluar rumah
3. Mengisi waktu luang
4. Jangan salah pergaulan
5. Memperdalam iman
6. Tidak mencoba-coba
7. Peranan orang tua

3. Kejahatan dan penyimpangan seksual
Pada tahun 2015, KPAI menyatakan kekerasan pada anak selalu meningkat setiap tahunnya dan secara garis besar kelompok pelakunya yaitu orang tua, tenaga pendidik beserta orang2 disekitar lingkungan sekolah, dan orang yang tidak dikenal (Siska, 2016). Menurut peneliti pendidikan, Derajat (1971) dan Komariah (2011), model pendidikan yang direkomendasikan dalam mencegah kejahatan & penyimpangan seksual, yaitu :
💫Penyelamatan hubungan ibu-bapak, sehingga menjadi contoh permodelan anak dalam pergaulan & kehidupan anak
💫Pendidikan agama islam mulai usia dini. Menanamkan keyakinan kepada Tuhan & bersungguh-sungguh dalam menjalankan ajarannya, maka rasa keyakinan itu yang kan mengawasi segala tindakan, perkataan bahkan perasaan sang anak.
💫Pendidikan moral. Moral bukanlah suatu pelajaran atau ilmu pengetahuan yang dapat dicapai dengan mempelajarinya tanpa ada pembiasaan hidup bermoral, karena moral tumbuh dari tindakan kepada pengertian dan perlunya peranan orang tua, guru & lingkungan sekitar anak tersebut.
Mencegah kejahatan dan penyimpangan seksual sejak dini menurut Islam (keterangan jelas ada di jurnal ta’dib, namun juga telah dibahas Oleh kelompok 1) :
❗Memperkenalkan jenis laki-laki dan wanita serta batas aurat.
❗Memisahkan tempat tidur anak.
❗Mengajarkan adab meminta zin.
❗Menanamkan jiwa maskulin dan feminim pada anak
❗Mendidik agar senantiasa menjaga pandangan mata
❗Mendidik agar tidak melakukan khalwat & ikhtilat
❗Mengajarkan akan nilai pernikahan

#presentasikeenam
1⃣
Assalamu’alaikum.
Titip pertanyaan ya.
Menarik sekali fitrah seksualitas dikaitkan dengan kultur. Bagaimana mengenai pernikahan anak di bawah umur biasanya rentang usia belasan tahun? Meski sehatinya belum melakukan hubungan suami istri.
Dalam islam diperbolehkan. Contoh pernikahan aisya dengan rosululloh. Contoh nyata anak ustdaz arifin ilham menikah dini. Secara ekonomi sudah mempunyai maisyah/pendapatan sendiri.
Terima kasih.
Sulis.

💋💋💋

Pernikahan adalah salah satu bentuk ibadah yang mempunyai tujuan utama memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Sementara pernikahan dini merupakan ikatan pernikahan yang salah satu atau kedua belah pihak berusia dibawah 18 tahun.

Hujum Islam memiliki beberapa prinsip yakni perlindungan pada agama, harta, jiwa, keturunan dan akal. Menikah muda menurut Islam sendiri tidak melarang adanya pernikahan dini asalkan sudah baligh dan sudah sanggup memberikan nafkah jasmani dan rohani.

Istilah pernikahan dini merupakan istilah kontemporer yang dikaitkan dengan waktu tertentu. Pada era awal abad ke-20 dan sebelumnya, pernikahan wanita usia 13 dan 14 tahun menjadi hal yg biasa. Namun pada masyarakat sekarang ini, wanita menikah dibawah usia 20 dianggap sebagai pernikahan dini.

Menurut pendapat Imam Muhammad Syrazi dan Asadulla Dastani Benisi, budaya pernikahan dini dibenarkan dalam islam dan sudah menjadi norma muslim sejak mulai awal islam.
Ibnu Syubromah menyikapi pernikahan yang dilakukan oleh Rasul dengan Aisyah bahwa ini adalah ketentuan khusus untuk Nabi SAW. Akan tetapi menurut pakar mayoritas hukum islam memperbolehkan pernikahan usia dini dan menjadi lumrah dikalangan para sahabat dan sebagian ulama melumrahkan juga yang merupakan hasil interpretasi Surat al Thalaq ayat 4.

Di Indonesia, fenomena pernikahan diusia anak-anak menjadi kultur sebagian masyarakat Indonesia yang masih memposisikan anak perempuan sebagai warga kelas ke-2. Para orang tua ingin mempercepat perkawinan dengan berbagai alasan ekonomi, sosial, anggapan tidak penting pendidikan bagi anak perempuan dan stigma negatif terhadap status perawan tua.

Batasan menikah diatur dalam pasal 7 ayat 1 UU nomer 1 tahun 1974 adalah 19 thn untuk laki-laki dan 15 tahun untuk perempuan. Akan tetapi menurut berita dr CNN Indonesia bahwa pemerintah melalui kementrian PPPA dan kemenag berencana menaikkan batas usia nikah dan merevisi UU no.1 tahun 1974 tentang perkawinan.

Walaupun dari sisi agama, kultur maupun hukum sebenernya membolehkan dan seperti yang kita ketahui bahwa hukum dasar pernikahan adalah *sunnah*, namun bisa berubah *wajib* pelaku jika pernikahan tdk dapat menahan iffah dan akhlak ,dan menjadi *haram* ketika bertujuan untuk menyakiti ataupun krna harta dan membahayakan.

Referensi :
https://dalamislam.com/hukum-islam/pernikahan/pernikahan-dini-dalam-islam

https://m.cnnindonesia.com/nasional/20180416180732-20-291207/pemerintah-bakal-naikkan-batas-usia-nikah-di-uu-perkawinan

#presentasikeenam
2⃣
Di dalam materi pdf utk mencegah penyimpangan seksual ini ada penyelamatan hubungan ibu-bapak

Yg dimaksudkan bagaimana dan berikan contohnya
-Dhona-

💋💋💋

Jawaban :

Ibu dan bapak, sebagai 2 sosok orang yang paling bertanggung jawab dalam menanamkan fitrah seksualitas kepada anak. Keduanya harus seimbang dan sesuai dengan fitrah seksual anak baik laki maupun perempuan. Keduanya harus memahami tugas dan peran masing-masing sehingga bisa menjadi contoh permodelan anak dalam pergaulan dan kehidupan anak.
Jika salah satunya tidak ada, maka harus ada peran pengganti yang mungkin bisa didapatkan dari keluarga dekat atau orang yang dipercaya, agar anak tidak kehilangan figur salah satunya.

Faktor yang terlihat pula dalam masyarakat sekarang ialah kerukunan hidup dalam rumah tangga kurang terjamin. Tidak tampak adanya saling pengertian, saling menerima, saling menghargai, saling mencintai di antara suami isteri. Tidak rukunnya ibu-bapak menyebabkan gelisahnya aak-anak, mereka menjadi takut, cemas dan tidak tahan berada ditengah-tengah orangtua yang tidak rukun. Maka anak-anak yang gelisah dan cemas itu mudah terdorong kepada perbuatan-perbuatan yang merupakan ungkapan dari rasa hatinya, biasanya akan mengganggu ketenteraman orang lain. Demikian juga halnya dengan anak-anak yang merasa kurang mendapatv perhatian, kasih sayang dan pemeliharaan orang tua akan mencari kepuasan diluar rumah.

Fitrah Seksualitas #Day5

Posted: September 27, 2018 in Uncategorized

Merawat & Menumbuhkan Fitrah Seksualitas Anak Usia 0-7 Tahun

Definisi Fitrah dan Seksualitas

Fitrah adalah suatu kemampuan manusia yang di berikan oleh Allah Subhanahu wataa ‘ala sejak manusia di lahirkan ke dunia dan itu adalah anugrah.

Sex menurut KBBI adalah jenis kelamin atau hal yang berhubungan dengan alat kelamin. Sedangkan seksualitas menyangkut berbagai dimensi yang sangat luas, yaitu dimensi biologis, sosial, psikologis, dan kultural. Dan menurut KBBI seksualitas adalah ciri, sifat atau peranan seks.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata fitrah diartikan dengan sifat asli, bakat, pembawaan perasaan keagamaan.

Tiap-tiap anak yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Hanya bapak ibulah yang menjadikan Yahudi, Nasrani dan Majusi”.(H.R. Muslim).

Fitrah Seksualitas Anak Tahap Usia 0-2 Tahun

● Perintah Allah Subhanahu wata’ala dalam Al Quran surah 2:233 untuk menyusui anak hingga 2 tahun.

● Di tahap ini anak laki-laki dan anak perempuan didekatkan pada ibunya.

● Tahap ini adalah masa menyusui, yang merupakan attachment awal.

● Seorang ibu fokus saat menyusui anaknya tanpa melakukan aktifitas lain no gadget, tv dll . Karena jika dilakukan, seorang anak akan merasa diabaikan atau neglected. Kelekatan ibu dan anak pada masa menyusui adalah modal dasar anak merasa disayangi, dicintai dan siap menghadapi dunia.

Fitrah Seksualitas Anak Tahap usia 3-7 tahun

● Menurut Harry Santosa tahap ini adalah menguatkan konsep diri berupa identitas gender.

● Anak lelaki dan anak perempuan di dekatkan kepada ayah dan ibunya secara bersamaan.

● Kedekatan dengan ayah ibu akan membuat anak bisa membedakan mana laki-laki dan perempuan, sehingga mereka secara alamiah akan paham gender mereka apa dan kelak bisa menempatkan diri sesuai dengan gendernya.

Ada hal-hal yang sudah harus diajarkan di usia 3-7 Tahun ini atau usia TK-SD diantaranya :

Penguatan Gender Anak

Umumnya di usia 0-2 tahun anak sudah dikenalkan tentang anggota tubuhnya dan jenis kelaminnya.

Dengan bertambahnya usia anak, kembali orang tua memberi penguatan tentang jenis kelamin anak.

Banyak cara yang bisa dilakukan orang tua untuk penguatan gender ini seperti bermain role play, membaca buku cerita atau bermain puzzle dan lain-lain.

Mengenalkan Rasa Malu Pada Anak Laki-laki dan Perempuan

Tidak membiasakan anak-anak walau masih kecil, bertelanjang di depan orang lain; misalnya ketika keluar kamar mandi, berganti pakaian, dan sebagainya.

Dan membiasakan anak untuk selalu menutup auratnya. Tidak diperkenankan juga untuk mandi bersama anak atau misalnya kakak adik mandi bersama.

Mengenalkan Aurat

Menurut istilah fiqih, aurat berarti: anggota badan yang tidak boleh ditampakkan oleh lelaki atau perempuan kepada orang lain.

Aurat wanita adalah seluruh badannya tanpa terkecuali. Sedangkan menurut sebagian ulama, kecuali muka dan kedua telapak tangan. Adapun aurat laki-laki adalah antara lutut sampai pusar.

Anak yang berusia di bawah 7 tahun, aslinya belum wajib untuk menutup aurat. Namun pembiasaan untuk menutup aurat amat dianjurkan.

Menutup aurat, selain berfungsi sebagai identitas seorang muslim atau muslimah, juga sebagai sarana untuk melindungi diri dari pelecehan seksual.

Membiasakan Sejak Dini Memakaikan Pakaian Sesuai Jenis Kelamin Anak.

Anak laki-laki berpakaian sesuai anak laki-laki dan anak perempuan pun sama, berpakaian sesuai anak perempuan. Disini peran orang tua sebagai role model anak-anaknya dalam hal berpakaian dan berasesoris.

Menjelaskan Cara Membersihkan dan Merawat Organ Kelamin.

Disini orang tua bisa mengajarkan bahwa kotoran dan air kencing adalah najis dan harus dibersihkan dengan istinja’ atau menggunakan air.

Menjelaskan ke anak-anak bahwa anggota tubuhnya berharga dan mengajarkan cara melidunginya.

sudah dikenalkan bahwa seluruh bagian dari anggota tubuhnya merupakan ciptaan dan pemberian Allah maka sudah seharusnya kita jaga dan syukuri.

Terus sounding pada anak-anak bahwa anggota tubuh itu miliknya, tidak sembarangan orang boleh melihat dan menyentuhnya.

Hal ini dilakukan sebagai upaya preventif agar anak terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan, seperti pelecehan seksual.

Memperkenalkan kepada anak-anak tentang proses kehamilan

Anak mulai bertanya mengenai kehamilan dan mulai memahami bahwa kehamilan hanya dialami oleh perempuan.

Hendaknya orang tua menampakkan perhatian yang baik terhadap keingintahuan anak-anaknya.

Orang tua bisa mengarahkan jawabannya kepada: (Sifat-sifat) Allah Sang Pencipta dan Kekuasaan-Nya.

Jelaskan juga) tentang rezeki dari Allah untuk (si janin) yang hidup di perut ibunya.

Si ibu juga bisa menjelaskan tentang ajal yang Allah tetapkan bagi si janin. Kemudian dengan kuasa Allah, Dia keluarkan si janin dari perut ibunya sebagaimana Dia “mengeluarkan” anak ayam dari telur.

Mengenalkan ke anak-anak tentang anggota tubuh dan organ reproduksinya.

Ajak si kecil mengenali bagian-bagian tubuhnya

Tanamkan pentingnya menjaga tubuh.

Bangun kebiasaan positif

Biasakan anak berpakaian sesuai identitasnya

Jangan membuatnya malu dengan hal-hal yang tak sepantasnya.

Tantangan di Tahap Usia 0-7 Tahun

• Maraknya pelecehan seksual diusia anak 0-7thn

• Anak perempuan yang berkeinginan memakai pakaian seperti teman sebayanya padahal tidak sesuai dengan value/nilai dalam keluarganya

• Maraknya penyebaran ideologi LGBT

• Tontonan yang menampilkan laki2 menyerupai perempuan dan sebaliknya di TV atau Media Sosial

• Menghadapi fase anak memainkan alat genital

Fitrah Seksualitas Anak laki-laki dan stimulasinya sesuai tahap usia 3-7 tahun

• Anak laki-laki harus dekat dengan ayah dan ibu (peran ayah dan ibu).

• Pengenalan konsep Gender.

• Mengenal nama dan fungsi anggota tubuh (secara luas dan ilmiah) serta batasan aurat bagi anak laki-laki.

• Bagi anak laki-laki mengenal dan terlatih untuk menjaga auratnya (tidak dilihat orang lain, tidak disentuh orang lain)

• Mengenal dan terbiasa berpakaian sesuai pakaian anak laki-laki (tidak memakai asesoris perempuan)

• Mengajarkan dan mempersiapkan masa pubertas (mimpi basah)

• Menjelaskan Cara merawat kesehatan dan kebersihan organ

• Menjelaskan perubahan fisik dan hormon saat menjelang puber.

• Mengajarkan anak menghargai dan melindungi tubuhnya sendiri

• Jalin komunikasi yang baik agar timbul keterbukaan anak pada orangtua.

Fitrah Seksualitas Anak perempuan dan stimulasinya sesuai tahap usia 3-7 tahun

• Anak perempuan harus dekat dengan ayah dan ibu (peran ayah dan ibu).

• Pengenalan konsep Gender.

• Mengenal nama dan fungsi anggota tubuh (secara luas dan ilmiah) serta batasan aurat bagi anak perempuan.

• Bagi anak perempuan mengenal dan terlatih untuk menjaga auratnya (tidak dilihat orang lain, tidak disentuh orang lain)

• Mengenal dan terbiasa berpakaian sesuai pakaian anak perempuan (tidak memakai asesoris laki-laki ). Jika muslim dibiasakan untuk mengenakan hijab

• Mengajarkan dan mempersiapkan masa pubertas (menstruasi )

• Menjelaskan Cara merawat kesehatan dan kebersihan organ

• Menjelaskan perubahan fisik dan hormon saat menjelang puber.

• Mengajarkan anak menghargai dan melindungi tubuhnya sendiri

• Menjelaskan secara ilmiah mengenai proses kehamilan dan persalinan secara sederhana

• Jalin komunikasi yang baik agar timbul keterbukaan anak pada orangtua.

Fitrah Seksualitas #Day4

Posted: September 25, 2018 in Uncategorized

Materi :
Mengupas kembali seks dengan gender dan bagaimana menjaga anak dari penyimpangan fitrah seksualitas

🌺 Pengertian Seks dan Gender
Seks dapat diartikan sebagai Jenis Kelamin Biologis Gender diartikan sebagai jenis kelamin sosial

🌺 Penyimpangan Seksual
• Segala bentuk aktivitas seksual yang dilakukan untuk mendapatkan kenikmatan sesksual dengan cara yang tidak sewajarnya (dari berbagai sumber)

🌺 Jenis Penyimpangan Seksual
1. Perzinaan
2. Perkosaan
3. Pelacuran
4. Homoseksual Lesbianisme
5. Pedofilia
6. Transvetisme (Waria)
7. Seks dubur (sodomi)
8. Onani/Mastrubasi
9. Pamer Alat Vital Pengintip (Voyeurisme)
10. Hubungan intim sedarah (Insestus)
11. Seks dengan kekerasan (sadisme)
12. Fetikhisme (pecinta bagian tubuh atau benda mati) Pecinta Mayat (Nekrofilia)
13. Seks segitiga (Troilisme)
14. Seks dengan hewan (Bestialitas)

🌺 Penyebab Penyimpangan Seksual

Faktor Internal
• Kelainan Fisik sejak lahir
• Kelainan Pengaruh Obat
• Problem Emosional

Faktor Eksternal
• Lingkungan Keluarga (informasi tentang pendidikan seks tidak didapatkan langsung dari keluarga karena dianggap tabu, sehingga anak mencari diam diam)
• Lingkungan Sosial (pergaulan yang bebas dan tontonan yang tidak mendidik)
• Lingkungan Sekolah (kurangnya kurikulum sekolah yang mensosiaisaikan tentang moral dan pendidikan seks, sekolah umumnya menitik beratkan pada pendidikan intelektual/IPTEK)

🌺 Akibat
• Kehamilan di luar nikah (yang apabila dibedah juga rentetannya akan panjang)
• Aborsi
• Perasaan bersalah
• Emosi tidak stabil
• Meresahkan masyarakat
• Penyakit menular seksual

🌺 Cara Mencegah Penyimpangan Seksual Pendidikan seks yang dilakukan dalam hal ini adalah dengan memberikan materimateri terkait dengan seks, diantaranya:
• Memberikan pelajaran tentang perbedaan jenis kelamin (bentuk tubuh dan fungsinya).
• Memberikan pemahaman tentang cara bersikap dan bergaul dengan lawan jenis atau sejenis (yang dibolehkan atau tidak).
• Memberikan pemahaman tentang bentuk-bentuk penyimpangan seksual.
• Mampu membedakan mana penyimpangan, pelecehan, atau kekerasan seksual, dan mana yang bukan.
• Mencegah agar anak tidak menjadi korban, atau bahkan pelaku penyimpangan, pelecehan, dan atau kekerasan seksual.
• Menumbuhkan sikap berani untuk memberitahukan kepada orangtua/guru apabila terjadi atau menjadi korban penyimpangan, pelecehan, dan atau kekerasan seksual.

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang beriman, yaitu orang yang khusu’ dalam sholatnya, menjauhkan diri dari perkataan dan perbuatan yang tidak berguna, orang yang menunaikan zakat dan yang MENJAGA KEMALUANNYA. (Q.S Al Mu’minum 1-5)“

🌺*SESI TANYA JAWAB*🌺

_Pertanyaan 1⃣ (Mba Alif Uzaini)_

Bagaimana contoh penyimpangan seksual yang disebabkan oleh kelainan fisik sejak lahir dan bagaimana cara mengatasinya?
Makasih yaaa

Jawaban :
Ciri2nya tidak bisa dilihat dari fisik luar secara umum (gay pun bisa bergaya maskulin)

Lebih karena disebabkan oleh kelainan fisik di dalam jasmani :
– Ketidaknormalan hormon.
– kelainan syaraf di otak

Ada banyak hal yang menyebabkan seseorangmemiliki perilaku seksual yang menyimpang atau parafilia.

Sebagian ahli berpendapat bahwa kelainan perilaku seksual disebabkan oleh trauma masa kecil, seperti pelecehan seksual. Ada pula yang mengatakan bahwa kondisi ini disebabkan oleh kelainan saraf di otak.

Atas dasar itu, perilaku menyimpang seksual biasanya ditangani dengan konseling dan terapi untuk mengubah perilakunya. Obat juga bisa digunakan untuk membantu proses itu. Sebab, tak menutup kemungkinan jika seseorang memiliki lebih dari satu perilaku seksual yang menyimpang.

Perilaku menyimpang ini perlu mendapat penanganan dengan segera, sebelum pelakunya menyakiti diri sendiri atau menimbulkan masalah hukum.

Sebab, di berbagai negara, beberapa jenis perilaku menyimpang seksual dianggap tindakan kriminal dan dapat dijatuhi hukuman pidana.

Seperti dijelaskan juga oleh Susan Noelen Hoeksema dalam bukunya Abnormal Psychology, lebih dari 90 persen penderita paraphilia adalah pria. Hal ini tampaknya berkaitan dengan penyebab paraphilia yang meliputi pelampiasan dorongan agresif atau permusuhan, yang lebih mungkin terjadi pada pria daripada wanita.

Penelitian-penelitian yang mencoba menemukan adanya ketidaknormalan testoteron ataupun hormon-hormon lainnya sebagai penyebab paraphilia, menunjukkan hasil tidak konsisten. Artinya, kecil kemungkinan paraphilia disebabkan ketidaknormalan hormon seks pria atau hormon lainnya.

Di sisi lain, penyalahgunaan obat dan alkohol ditemukan sangat umum terjadi pada penderita paraphilia. Obat-obatan tertentu tampaknya memungkinkan penderita paraphilia melepaskan fantasi tanpa hambatan dari kesadaran.

Paraphilia menurut perspektif teori perilaku merupakan hasil pengondisian klasik. Contohnya, berkembangnya bestialiti mungkin terjadi sebagai berikut: Seorang remaja laki-laki melakukan masturbasi dan memperhatikan gambar kuda di dinding. Dengan demikian mungkin berkembang keinginan untuk melakukan hubungan seks dengan kuda, dan menjadi sangat bergairah dengan fantasi demikian.

Hal ini terjadi berulang-ulang dan bila fantasi tersebut berasosiasi secara kuat dengan dorongan seksualnya, mungkin ia mulai bertindak di luar fantasi dan mengembangkan bestilialiti.

Sumber

https://megapolitan.kompas.com/read/2009/07/22/09571320/kelainan.seksual.apa.penyebabnya

https://lifestyle.kompas.com/read/2016/09/19/211500823/mengenal.10.jenis.penyimpangan.seksual

Tambahin jawaban yg ini yaaa.. salah satu kelainan fisik sejak lahir ada yg namanya ambigua genitalia,

solusi nya bisa terapi hormon, operasi & terapi utk psikologi anak yg terkena penyakit ini..

selengkapnya bisa dibaca di sini :
https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/ambiguous-genitalia/symptoms-causes/syc-20369273

btw soal LGBT : kita semua tau bahwa LGBT itu jelas penyimpangan seksual hanya saja, sama WHO, udah dianggap bukan penyimpangan, tapi katanya itu identitas..

disini bahaya nya sih.. bukan aku bilang : LGBT itu boleh2 aja yaaa *takut ada yg salah paham hahaha

ini artikel kompas bisa jadi referensi, ada keputusan di WHO & kemenkes..

https://nasional.kompas.com/read/2008/11/11/13081144/Homoseksual.Bukan.Penyimpangan.Seksual.
i beberapa negara ilegal, mengenai legalitas LGBT di setiap wilayah berbeda, selengkap nya disini :

https://en.m.wikipedia.org/wiki/LGBT_rights_by_country_or_territory

_Pertanyaan 2⃣ (Mba Ria)_
Di point no 8 penyimpangan seksual itu apa maksudnya yah? Apakah sama dengan yg suka pamerin kemaluannya (ekshibisionis) ?
Terimakasih
💎Ria

Jawaban :
Beda..

1. Ekshibisionisme: mempertunjukkan alat kelamin kepada orang yang tidak dikenal untuk mendapatkan kenikmatan seksual.

Veyourisme: kenikmatan seksual dengan mengintip orang lain yang sedang mengganti atau menanggalkan pakaiannya, telanjang, atau sedang beraktivitas seksual
_Pertanyaan 3⃣_
Jelaskan tentang fedofilia transvetisme (waria)
Aq tahunya fedofil itu tukang perkosa anak2..bener apa gak yaa?

Jawaban :
Pedophilia adalah orang dewasa yang suka melakukan hubungan seks / kontak fisik yang merangsang dengan anak di bawah umur.

Transvetisme adalah seseorang yang secara anatomis laki-laki, tetapi secara psikologis merasa dan menganggap dirinya seorang perempuan. Ia akan berperilaku dan berpakaian seperti perempuan untuk mendapatkan kegairahan seksual. Seorang transvestit memakai pakaian wanita (cross-dressing) sebagai pernyataan identifikasi dirinya wanita (fiminine identification). Bangkitnya rangsangan seksual dan orgasme menandakan kemenangan atas identifikasi feminim itu. Dalam masyarakat kita dikenal dengan istilah banci atau waria.

Pertanyaan ke 4⃣:

Assalamu’alaikum mb dhona mau titip pertanyaan :
Bagaimana cara menangani pelaku kajahatan anak yang masih di bawah umur ? Misal seorang bocah 10 th mencabuli teman sekelasnya. Pernah denger berita ini.

jawaban :
Untuk menangani pelaku kejahatan seksual di bawah umur, kita perlu mengetahui penyebabnya terlebih dahulu

Berdasarkan beberapa riset, penyimpangan seksual oleh anak di bawah umur bisa dari hal2 berikut :
1. kerusakan lingkungan tempat anak-anak tersebut tinggal. Bisa jadi, anak-anak yang menjadi pelaku pada contoh kasus di Jatinegara & Salatiga pernah menjadi korban, atau setidaknya pernah melihat orang dewasa melakukan tindakan pornografi untuk memenuhi kebutuhan seks dengan melihat gambar porno, cabul, atau membaca cerita-cerita porno.

Jika sudah seperti ini, hal ini bukan lagi soal mengajari anak-anak tentang bagian tubuh mana yang tidak/boleh disentuh atau dilihat orang lain, tetapi harus lebih dari itu. Sebab, jika dipaksa, apalah arti mengatakan tidak.

2. Kedua orang tua bekerja, sehingga tidak ada pantauan utk gadget dan media sosial yang membuat manusia terasing, tontonan TV yang menjadikan bullying, umpatan dan kata-kata kotor sebagai candaan, pornografi, apatisme sosial, egoisme, rendahnya mutu pendidikan, serta tidak berjalannya kebijakan pemerintah turut menyumbang perilaku menyimpang tersebut.

Mereka adalah anak-anak yang mengalami BLAST (Bored-Bosan, Lonely-Kesepian, Angry-Marah, Afraid-Takut, Stress-Stres, Tired-Lelah). Mereka dipaksa mampu baca tulis hitung sejak usia sangat kecil, perhatian orangtua hanya pada pelajaran semata, beban pelajaran sangat berat, belum lagi jika mengalami kekerasan di sekolah. Mereka kesepian, tidak tahu harus curhat pada siapa, wajar jika anak merasa stress. Akhirnya mereka mencari kegiatan yang membuatnya senang dan kebanyakan mereka menghabiskan waktunya dengan handphonenya. Handphone telah menjadi orangtua pengganti bagi mereka.

Saran untuk menyikapi kasus tsb :
1. Bagi pelaku Program Studi/ praktisi
Diharapkan sekiranya ada mahasiswa/ Praktisi/ akademisi/ tenaga medis yang tertarik untuk memberikan konseling
secara intensif terhadap kasus yang
serupa.

2. Bagi Masyarakat Luas
Diharapkan mampu memberikan sedikit
informasi kepada masyarakat luas
dan secara khusus kepada keluarga-keluarga supaya lebih memperhatikan anak dalam berperilaku dan bergaul.
Contohnya bagaimana perilaku bergaul dan apa saja yang dilakukan anak ketika di
sekolah, di rumah ataupun selama berada diluar ketika bermain dengan teman-temannya. Apa saja yang mereka lakukan dan dengan siapa saja mereka bermain. Sehingga tidak akan ada lagi kasus yang serupa.
Apabila ada kasus yang serupa, diharapkan orang tua mampu memberikan pengertian dan penjelasan terhadap anak-anaknya tentang benar atau tidaknya hal tersebut.

3. Bagi Sekolah
Diharapkan sekolah mampu memantau lebih dalam perkembangan serta perilaku
subjek ketika berada di sekolah. Sehingga dapat meminimalisir kejadian atau kasus
yang serupa atau perilaku asusila yang lainnya

4. Bagi siswa
Diharapkan kasus yang menimpa subjek dapat dijadikan sebuah pelajaran dan juga
contoh perilaku yang tidak baik dan
tidak pantas ditiru sehingga siswa-
siswa dapat belajar dan lebih berhati- hati dalam bersikap dan juga berperilaku.

5. Bagi Orang Tua
Diharapkan orang tua
dapat lebih mengawasi perkembangan anak.
Dengan siapa dia bermain, apa yang dia
lakukan, tayangan apa yang sering di lihat.
Serta bagaimana perilakunya ketika berada
di sekolah. Dan juga diharapkan orang tua
lebih memperhatikan apa yang akan orang
tua lakukan dan katakan karena anak bisa
saja mencontoh semua perilaku dan kata-
kata yang orang tua ucapkan dan lakukan.

6. Adanya sanksi yang tegas
Jika memang perbuatan yang dilakukan oleh anak laki-laki dan perempuan itu berupa perbuatan cabul yang diawali dengan rayuan terlebih dahulu maka perbuatan tersebut melanggar Pasal 76E UU 35/2014 yang menyatakan:

“Setiap Orang dilarang melakukan Kekerasan atau ancaman Kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, melakukan serangkaian kebohongan, atau membujuk Anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul.”

Hukuman atas perbuatan tersebut diatur dalam Pasal 82 UU 35/2014 sebagai berikut:

(1) Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76E dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

(2) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Orang Tua, Wali, pengasuh Anak, pendidik, atau tenaga kependidikan, maka pidananya ditambah 1/3 (sepertiga) dari ancaman pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Dari rumusan pasal di atas terlihat bahwa tidak ada keharusan bahwa tindakan pidana tersebut harus dilaporkan oleh korbannya. Dengan demikian, delik pencabulan terhadap anak merupakan delik biasa, bukan delik aduan. Oleh karena itu, orang lain boleh melaporkan kejadian ini.

Perlu diketahui pula bahwa dalam pasal tersebut tidak diatur mengenai siapa yang melakukan tindakan pidana tersebut, apakah orang yang sudah dewasa atau anak-anak. Oleh karena itu, anak-anak pun dapat dipidana berdasarkan pasal ini.

Sumber :
Davidson, G.C; J.M Neale; A.M
Kring.Penerjemah Neormalasari Fajar.
2006. Psikologi Abnormal Edisi 9.
Jakarta : Raja Grafindo Persada
Junaedi, Didi. 2010. 17+ Seks Menyimpang
tinjauan dan solusi berdasarkan al-
Qur’an dan psikologi. Penerbit Sejuk
PT. Wahana Semesta Intermedia

http://m.hukumonline.com/klinik/detail/lt5125d3aaf3911/pasal-untuk-menjerat-anak-yang-lakukan-pencabulan

Pertanyaan 5⃣ ( Mba Frisdayani)

Kalau begini bisa dibilang penyimpangan juga kah mba? Anak perempuan yg tumbuh besar menjadi wanita dan ibu yang temperamen dan otoriter

Temperamen ini lebih kepada perilaku manusia ya.

Perilaku manusia merupakan hasil daripada segala macam pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungannya yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan.

Dengan kata lain, perilaku merupakan respon/reaksi seorang
individu terhadap stimulus yang berasal dari luar maupun dari dalam dirinya.

Jadi ini bukan termasuk penyimpangan seksual, tapi bentukan perilaku

_Pertanyaan 6⃣ (Mba Dini Nuraeni)_
Cara mendeteksi ada atau tidaknya penyimpangan seksual sejak usia muda ada ngga ya??

Coba menjawab yg ini ya

Untuk mendeteksi ada atau tidaknya penyimpangan seksual di usia muda, kita harus waspada dan coba mengamati dari beberapa faktor

Faktor internal:
Pernahkah si anak mengalami Krisis identitas ? Dan mengalami hal-hal di luar kebiasaannya seperti membentuk kelompok/geng, berpakaian dengan mode yang tidak sesuai,

Atau Kontrol diri yang lemah dengan adanya perubahan perilaku & temperamen .. menjadi mudah marah atau justru menjadi lebih pendiam

Faktor eksternal:
1. Amati Keluarga & Teman sebayanya, ada yang kurang baik atau tidam

2. Komunitas/lingkungan tempat tinggal yang kurang baik, misal banyak terjadi pengrusakan atau adanya peredaran pornografi

Jika ada kemungkinan2 di atas.. kita Harus lebih waspada dan peka utk mendeteksi adanya penyimpangan seksual pada remaja

– pada dasarnya pengasuhan bukan sekadar membuat anak nyaman, imunisasi lengkap, dan memberikan asupan bernutrisi. Lebih dati itu, pengasuhan menurutnya adalah apa yang dilakukan orang tua untuk anaknya, sejak sang anak bangun tidur sampai anak tidur lagi.( menurut dokter spesialis kejiwaan ), ketika sang anak berperilaku berbeda dengan identitas gendernya, maka harus dipastikan terlebih dahulu bagaimana orientasi seksualnya. Karena orientasi seksual ini sulit diketahui kecuali dari pengakuan jujur dari yang bersangkutan.

Pertanyaan 7⃣ (Mba Diah)
Apakah perlu kita jelaskan detail tentang bahayanya pergaulan antara anak laki”dan perempuan yang terlalu dekat,sama anak usia sebelas taun?
Was”si kaka suka ikut”an diajak temennya main sama Anak laki” 🙈

Untuk usia 11 tahun, kami ada referensi dari Ust. Harry Santosa (Buku FBE) mengenai apa yang harus dilakukan dan dijelaskan kepada anak mengenai seksualitas:

Usia 11 – 14 tahun

Usia ini sudah masuk tahap pre aqil baligh akhir dan pada usia ini mulailah switch/menukar kedekatan (Lintas gender)

Dalam tahap ini membutuhkan kehadiran orang tua untuk membersamai anak. Oleh karena itu penting untuk kita memahami betul bahwa di setiap tahap usia, kita selalu dibutuhkan dalam tugas yang berbeda untuk gender anak yang berbeda

Sebagai orang tua, kita juga perlu memperhatikan media yang ada di sekitar anak seperti TV, gadget, internet, dll. Pastikan bahwa kita tahu apa yang dlihat anak, kita dampingi anak ketika melihatnya dan berikan sudut pandang dan nilai yang tepat atas apa yang anak lihat. *PENUTUP * #fitrahseksualitas #fitrahestetika

Seorang ibu berusia sekitar 26 tahun, berbusana muslimah sangat rapih, sudah memiliki seorang putra usia 5 tahun, dengan sedih mengatakan bahwa dia tidak pernah bisa menjadikan suaminya sebagai sosok pria yang dicintainya.

Padahal menurutnya tiada yang kurang dari suaminya, dia tampan, gagah, bertanggungjawab, mencintai dirinya (istrinya), sangat sayang pada anaknya. Juga tidak ada lelaki lain di luar sana yang dicintai ibu itu, na’udzubillah.

Ibu muda itu, sambil mencoba nampak tegar, mengatakan bahwa dia sudah berusaha keras mencintai suaminya dan sering berdoa meminta agar Allah menjadikan hatinya condong kepada suaminya, namun belum bisa. Di awal pernikahan memang ada rasa tertarik atau suka, namun perasaan itu tidak pernah bertambah, ya begitu begitu saja.

Tadinya dia fikir ketika menikah maka rasa sukanya akan bertambah dan menjadi cinta, layaknya pasangan yang lain. Karena pernikahan seharusnya begitu bukan? Diawali rasa tenang, kemudian sayang lalu rasa cinta. Nyatanya tidak. Dia bahkan merasa tidak nyaman berada di dekat suaminya.

Ibu muda itu amat gundah, bahkan dia bercerita beberapa kali nyaris melakukan hubungan sejenis dengan perempuan lain atau lesbi, alhamdulillah belum pernah kejadian. Tetapi jika begini terus, cepat atau lambat hal ini bisa saja terjadi katanya.

Usut punya usut, ternyata ketika berusia 12 tahun, ayahanda dari ibu ini melakukan poligami, namun dengan cara yang tidak baik. Jarang pulang ke rumah dan sangat kasar. Dia mengaku sering ditampar dan dipukul ayahnya. Padahal di usia segitu, dia sedang membutuhkan kedekatan dengan seorang ayah.

Inilah rupanya penyebabnya. Dalam kajian pendidikan berbasis fitrah, ditemukan bahwa anak perempuan yang tidak dekat dengan ayah atau tidak memiliki sosok ayah pada usia 11-14 tahun akan menyebabkan berbagai penyimpangan fitrah seksualitas.

Gejala penyimpangan fitrah seksualitas yang paling umum adalah selalu haus akan sosok kasih sayang ayah atau cinta ayah. Mereka akan selalu mencari lelaki yang dapat memuaskan dirinya akan sosok ayah.

Mereka bisa menjadi petualang cinta, (maaf) dari ranjang ke ranjang menukar tubuhnya dengan segenggam “rasa cinta ayah” yang hilang atau tidak pernah hadir dalam hidupnya. Ini fitrah seksualitas dan cinta yang menyimpang karena tidak terpenuhi pada tahapan masa pendidikan fitrahnya.

Kehausan akan rasa cinta itu bagai fatamorgana yang tidak pernah terpuaskan. Konon sebuah riset mengungkapkan bahwa anak perempuan yang tidak dekat dengan ayahnya di usia 11-14 tahun, ternyata 6 kali berpeluang menyerahkan tubuhnya pada lelaki yang dianggap dapat menjadi pengganti sosok ayahnya.

Jika sudah menghantam masuk ke alam bawah sadar seperti ini maka harus ditangani serius agar sembuh.

Akibat yang kedua, jika anak perempuan tidak dekat dengan ayahnya pada usia 11-14 tahun, maka fitrah seksualitasnya akan menyimpang dalam bentuk membenci sosok ayah atau sosok lelaki, dia bahkan tidak mampu mencintai suaminya sendiri bahkan cenderung menjadi lesbian. Sosok ayah sama sekali tidak indah di hatinya.

Lalu bagaimana dengan anak lelaki? Hampir serupa. Anak lelaki yang tidak dekat dengan ibunya atau tidak memiliki sosok ibu, terutama pada usia 11-14 tahun, akan mudah melecehkan perempuan, suka berpacaran atau playboy.

Bahkan dalam kasus tertentu apabila anak lelaki membenci ibunya dengan amat sangat maka dia bisa menjadi gay.

Anak lelaki yang tidak dekat dengan ibunya, biasanya kelak menjadi suami yang kasar terhadap istri karena tidak pernah memahami perempuan dari cara pandang perempuan terhadap perempuan. Ini diperoleh secara alamiah apabila dia dekat dengan ibunya atau sosok yang bisa menjadi sosok ibu baginya.

Maka para orangtua terutama ayah kembalilah ke rumah, kewajiban utama adalah mendidik anak bukan mencari nafkah. Ketika anak anak beranjak remaja umumnya para ayah mulai menanjak karirnya, mulai menempati posisi penting dengan segala kesibukkannya.

Pada fase ini beberapa ayah mulai kaya dan nampak mulai ingin menikah lagi atau menjadi genit kembali dsbnya sehingga mengabaikan pendidikan fitrah anak anaknya.

Biasanya memboarding schoolkan anak yang belum aqilbaligh, usia 11-14 menjadi pilihan keluarga sibuk dengan beragam alasan, padahal fitrah seksualitas belum tumbuh benar.

Ingat bahwa fitrah seksualitas harus tumbuh paripurna bersama kehadiran penuh ayahibunya melalui kelekatan yang intens sejak dalam kandungan sampai aqilbaligh.

Banyak kasus LGBT terjadi di Boarding School di seluruh dunia. Itu karena memang semua fitrah manusia ini sejatinya harus terpenuhi dan berkembang termasuk fitrah seksualitas, jika tidak maka penyimpangan fitrahlah akibatnya.

Lihatlah Siroh atau perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW, beliau tidak pernah kehilangan sosok ayah dan sosok ibu sepanjang kehidupannya sejak dalam kandungan sampai aqilbaligh.

Maka fitrah seksualitas beliau tumbuh indah paripurna menjadi peran lelaki sejati dan peran ayah sejati dengan cinta sejati.

Salam Pendidikan Peradaban*REVIEW PRESENTASI KEL 8*
_Kelompok 8_

Romadhona
Nadya
Riny
Mulyeni
Himmatul aina
Sartika Anggun
Sisyanti Materi :
Mengupas kembali seks dengan gender dan bagaimana menjaga anak dari penyimpangan fitrah seksualitas

🌺 Pengertian Seks dan Gender
Seks dapat diartikan sebagai Jenis Kelamin Biologis Gender diartikan sebagai jenis kelamin sosial

🌺 Penyimpangan Seksual
• Segala bentuk aktivitas seksual yang dilakukan untuk mendapatkan kenikmatan sesksual dengan cara yang tidak sewajarnya (dari berbagai sumber)

🌺 Jenis Penyimpangan Seksual
1. Perzinaan
2. Perkosaan
3. Pelacuran
4. Homoseksual Lesbianisme
5. Pedofilia
6. Transvetisme (Waria)
7. Seks dubur (sodomi)
8. Onani/Mastrubasi
9. Pamer Alat Vital Pengintip (Voyeurisme)
10. Hubungan intim sedarah (Insestus)
11. Seks dengan kekerasan (sadisme)
12. Fetikhisme (pecinta bagian tubuh atau benda mati) Pecinta Mayat (Nekrofilia)
13. Seks segitiga (Troilisme)
14. Seks dengan hewan (Bestialitas)

🌺 Penyebab Penyimpangan Seksual

Faktor Internal
• Kelainan Fisik sejak lahir
• Kelainan Pengaruh Obat
• Problem Emosional

Faktor Eksternal
• Lingkungan Keluarga (informasi tentang pendidikan seks tidak didapatkan langsung dari keluarga karena dianggap tabu, sehingga anak mencari diam diam)
• Lingkungan Sosial (pergaulan yang bebas dan tontonan yang tidak mendidik)
• Lingkungan Sekolah (kurangnya kurikulum sekolah yang mensosiaisaikan tentang moral dan pendidikan seks, sekolah umumnya menitik beratkan pada pendidikan intelektual/IPTEK)

🌺 Akibat
• Kehamilan di luar nikah (yang apabila dibedah juga rentetannya akan panjang)
• Aborsi
• Perasaan bersalah
• Emosi tidak stabil
• Meresahkan masyarakat
• Penyakit menular seksual

🌺 Cara Mencegah Penyimpangan Seksual Pendidikan seks yang dilakukan dalam hal ini adalah dengan memberikan materimateri terkait dengan seks, diantaranya:
• Memberikan pelajaran tentang perbedaan jenis kelamin (bentuk tubuh dan fungsinya).
• Memberikan pemahaman tentang cara bersikap dan bergaul dengan lawan jenis atau sejenis (yang dibolehkan atau tidak).
• Memberikan pemahaman tentang bentuk-bentuk penyimpangan seksual.
• Mampu membedakan mana penyimpangan, pelecehan, atau kekerasan seksual, dan mana yang bukan.
• Mencegah agar anak tidak menjadi korban, atau bahkan pelaku penyimpangan, pelecehan, dan atau kekerasan seksual.
• Menumbuhkan sikap berani untuk memberitahukan kepada orangtua/guru apabila terjadi atau menjadi korban penyimpangan, pelecehan, dan atau kekerasan seksual.

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang beriman, yaitu orang yang khusu’ dalam sholatnya, menjauhkan diri dari perkataan dan perbuatan yang tidak berguna, orang yang menunaikan zakat dan yang MENJAGA KEMALUANNYA. (Q.S Al Mu’minum 1-5)“

🌺*SESI TANYA JAWAB*🌺

_Pertanyaan 1⃣ (Mba Alif Uzaini)_

Bagaimana contoh penyimpangan seksual yang disebabkan oleh kelainan fisik sejak lahir dan bagaimana cara mengatasinya?
Makasih yaaa

Jawaban :
Ciri2nya tidak bisa dilihat dari fisik luar secara umum (gay pun bisa bergaya maskulin)

Lebih karena disebabkan oleh kelainan fisik di dalam jasmani :
– Ketidaknormalan hormon.
– kelainan syaraf di otak

Ada banyak hal yang menyebabkan seseorangmemiliki perilaku seksual yang menyimpang atau parafilia.

Sebagian ahli berpendapat bahwa kelainan perilaku seksual disebabkan oleh trauma masa kecil, seperti pelecehan seksual. Ada pula yang mengatakan bahwa kondisi ini disebabkan oleh kelainan saraf di otak.

Atas dasar itu, perilaku menyimpang seksual biasanya ditangani dengan konseling dan terapi untuk mengubah perilakunya. Obat juga bisa digunakan untuk membantu proses itu. Sebab, tak menutup kemungkinan jika seseorang memiliki lebih dari satu perilaku seksual yang menyimpang.

Perilaku menyimpang ini perlu mendapat penanganan dengan segera, sebelum pelakunya menyakiti diri sendiri atau menimbulkan masalah hukum.

Sebab, di berbagai negara, beberapa jenis perilaku menyimpang seksual dianggap tindakan kriminal dan dapat dijatuhi hukuman pidana.

Seperti dijelaskan juga oleh Susan Noelen Hoeksema dalam bukunya Abnormal Psychology, lebih dari 90 persen penderita paraphilia adalah pria. Hal ini tampaknya berkaitan dengan penyebab paraphilia yang meliputi pelampiasan dorongan agresif atau permusuhan, yang lebih mungkin terjadi pada pria daripada wanita.

Penelitian-penelitian yang mencoba menemukan adanya ketidaknormalan testoteron ataupun hormon-hormon lainnya sebagai penyebab paraphilia, menunjukkan hasil tidak konsisten. Artinya, kecil kemungkinan paraphilia disebabkan ketidaknormalan hormon seks pria atau hormon lainnya.

Di sisi lain, penyalahgunaan obat dan alkohol ditemukan sangat umum terjadi pada penderita paraphilia. Obat-obatan tertentu tampaknya memungkinkan penderita paraphilia melepaskan fantasi tanpa hambatan dari kesadaran.

Paraphilia menurut perspektif teori perilaku merupakan hasil pengondisian klasik. Contohnya, berkembangnya bestialiti mungkin terjadi sebagai berikut: Seorang remaja laki-laki melakukan masturbasi dan memperhatikan gambar kuda di dinding. Dengan demikian mungkin berkembang keinginan untuk melakukan hubungan seks dengan kuda, dan menjadi sangat bergairah dengan fantasi demikian.

Hal ini terjadi berulang-ulang dan bila fantasi tersebut berasosiasi secara kuat dengan dorongan seksualnya, mungkin ia mulai bertindak di luar fantasi dan mengembangkan bestilialiti.

Sumber

https://megapolitan.kompas.com/read/2009/07/22/09571320/kelainan.seksual.apa.penyebabnya

https://lifestyle.kompas.com/read/2016/09/19/211500823/mengenal.10.jenis.penyimpangan.seksual

Tambahin jawaban yg ini yaaa.. salah satu kelainan fisik sejak lahir ada yg namanya ambigua genitalia,

solusi nya bisa terapi hormon, operasi & terapi utk psikologi anak yg terkena penyakit ini..

selengkapnya bisa dibaca di sini :
https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/ambiguous-genitalia/symptoms-causes/syc-20369273

btw soal LGBT : kita semua tau bahwa LGBT itu jelas penyimpangan seksual hanya saja, sama WHO, udah dianggap bukan penyimpangan, tapi katanya itu identitas..

disini bahaya nya sih.. bukan aku bilang : LGBT itu boleh2 aja yaaa *takut ada yg salah paham hahaha

ini artikel kompas bisa jadi referensi, ada keputusan di WHO & kemenkes..

https://nasional.kompas.com/read/2008/11/11/13081144/Homoseksual.Bukan.Penyimpangan.Seksual.
i beberapa negara ilegal, mengenai legalitas LGBT di setiap wilayah berbeda, selengkap nya disini :

https://en.m.wikipedia.org/wiki/LGBT_rights_by_country_or_territory

_Pertanyaan 2⃣ (Mba Ria)_
Di point no 8 penyimpangan seksual itu apa maksudnya yah? Apakah sama dengan yg suka pamerin kemaluannya (ekshibisionis) ?
Terimakasih
💎Ria

Jawaban :
Beda..

1. Ekshibisionisme: mempertunjukkan alat kelamin kepada orang yang tidak dikenal untuk mendapatkan kenikmatan seksual.

Veyourisme: kenikmatan seksual dengan mengintip orang lain yang sedang mengganti atau menanggalkan pakaiannya, telanjang, atau sedang beraktivitas seksual
_Pertanyaan 3⃣_
Jelaskan tentang fedofilia transvetisme (waria)
Aq tahunya fedofil itu tukang perkosa anak2..bener apa gak yaa?

Jawaban :
Pedophilia adalah orang dewasa yang suka melakukan hubungan seks / kontak fisik yang merangsang dengan anak di bawah umur.

Transvetisme adalah seseorang yang secara anatomis laki-laki, tetapi secara psikologis merasa dan menganggap dirinya seorang perempuan. Ia akan berperilaku dan berpakaian seperti perempuan untuk mendapatkan kegairahan seksual. Seorang transvestit memakai pakaian wanita (cross-dressing) sebagai pernyataan identifikasi dirinya wanita (fiminine identification). Bangkitnya rangsangan seksual dan orgasme menandakan kemenangan atas identifikasi feminim itu. Dalam masyarakat kita dikenal dengan istilah banci atau waria.

Pertanyaan ke 4⃣:

Assalamu’alaikum mb dhona mau titip pertanyaan :
Bagaimana cara menangani pelaku kajahatan anak yang masih di bawah umur ? Misal seorang bocah 10 th mencabuli teman sekelasnya. Pernah denger berita ini.

jawaban :
Untuk menangani pelaku kejahatan seksual di bawah umur, kita perlu mengetahui penyebabnya terlebih dahulu

Berdasarkan beberapa riset, penyimpangan seksual oleh anak di bawah umur bisa dari hal2 berikut :
1. kerusakan lingkungan tempat anak-anak tersebut tinggal. Bisa jadi, anak-anak yang menjadi pelaku pada contoh kasus di Jatinegara & Salatiga pernah menjadi korban, atau setidaknya pernah melihat orang dewasa melakukan tindakan pornografi untuk memenuhi kebutuhan seks dengan melihat gambar porno, cabul, atau membaca cerita-cerita porno.

Jika sudah seperti ini, hal ini bukan lagi soal mengajari anak-anak tentang bagian tubuh mana yang tidak/boleh disentuh atau dilihat orang lain, tetapi harus lebih dari itu. Sebab, jika dipaksa, apalah arti mengatakan tidak.

2. Kedua orang tua bekerja, sehingga tidak ada pantauan utk gadget dan media sosial yang membuat manusia terasing, tontonan TV yang menjadikan bullying, umpatan dan kata-kata kotor sebagai candaan, pornografi, apatisme sosial, egoisme, rendahnya mutu pendidikan, serta tidak berjalannya kebijakan pemerintah turut menyumbang perilaku menyimpang tersebut.

Mereka adalah anak-anak yang mengalami BLAST (Bored-Bosan, Lonely-Kesepian, Angry-Marah, Afraid-Takut, Stress-Stres, Tired-Lelah). Mereka dipaksa mampu baca tulis hitung sejak usia sangat kecil, perhatian orangtua hanya pada pelajaran semata, beban pelajaran sangat berat, belum lagi jika mengalami kekerasan di sekolah. Mereka kesepian, tidak tahu harus curhat pada siapa, wajar jika anak merasa stress. Akhirnya mereka mencari kegiatan yang membuatnya senang dan kebanyakan mereka menghabiskan waktunya dengan handphonenya. Handphone telah menjadi orangtua pengganti bagi mereka.

Saran untuk menyikapi kasus tsb :
1. Bagi pelaku Program Studi/ praktisi
Diharapkan sekiranya ada mahasiswa/ Praktisi/ akademisi/ tenaga medis yang tertarik untuk memberikan konseling
secara intensif terhadap kasus yang
serupa.

2. Bagi Masyarakat Luas
Diharapkan mampu memberikan sedikit
informasi kepada masyarakat luas
dan secara khusus kepada keluarga-keluarga supaya lebih memperhatikan anak dalam berperilaku dan bergaul.
Contohnya bagaimana perilaku bergaul dan apa saja yang dilakukan anak ketika di
sekolah, di rumah ataupun selama berada diluar ketika bermain dengan teman-temannya. Apa saja yang mereka lakukan dan dengan siapa saja mereka bermain. Sehingga tidak akan ada lagi kasus yang serupa.
Apabila ada kasus yang serupa, diharapkan orang tua mampu memberikan pengertian dan penjelasan terhadap anak-anaknya tentang benar atau tidaknya hal tersebut.

3. Bagi Sekolah
Diharapkan sekolah mampu memantau lebih dalam perkembangan serta perilaku
subjek ketika berada di sekolah. Sehingga dapat meminimalisir kejadian atau kasus
yang serupa atau perilaku asusila yang lainnya

4. Bagi siswa
Diharapkan kasus yang menimpa subjek dapat dijadikan sebuah pelajaran dan juga
contoh perilaku yang tidak baik dan
tidak pantas ditiru sehingga siswa-
siswa dapat belajar dan lebih berhati- hati dalam bersikap dan juga berperilaku.

5. Bagi Orang Tua
Diharapkan orang tua
dapat lebih mengawasi perkembangan anak.
Dengan siapa dia bermain, apa yang dia
lakukan, tayangan apa yang sering di lihat.
Serta bagaimana perilakunya ketika berada
di sekolah. Dan juga diharapkan orang tua
lebih memperhatikan apa yang akan orang
tua lakukan dan katakan karena anak bisa
saja mencontoh semua perilaku dan kata-
kata yang orang tua ucapkan dan lakukan.

6. Adanya sanksi yang tegas
Jika memang perbuatan yang dilakukan oleh anak laki-laki dan perempuan itu berupa perbuatan cabul yang diawali dengan rayuan terlebih dahulu maka perbuatan tersebut melanggar Pasal 76E UU 35/2014 yang menyatakan:

“Setiap Orang dilarang melakukan Kekerasan atau ancaman Kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, melakukan serangkaian kebohongan, atau membujuk Anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul.”

Hukuman atas perbuatan tersebut diatur dalam Pasal 82 UU 35/2014 sebagai berikut:

(1) Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76E dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

(2) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Orang Tua, Wali, pengasuh Anak, pendidik, atau tenaga kependidikan, maka pidananya ditambah 1/3 (sepertiga) dari ancaman pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Dari rumusan pasal di atas terlihat bahwa tidak ada keharusan bahwa tindakan pidana tersebut harus dilaporkan oleh korbannya. Dengan demikian, delik pencabulan terhadap anak merupakan delik biasa, bukan delik aduan. Oleh karena itu, orang lain boleh melaporkan kejadian ini.

Perlu diketahui pula bahwa dalam pasal tersebut tidak diatur mengenai siapa yang melakukan tindakan pidana tersebut, apakah orang yang sudah dewasa atau anak-anak. Oleh karena itu, anak-anak pun dapat dipidana berdasarkan pasal ini.

Sumber :
Davidson, G.C; J.M Neale; A.M
Kring.Penerjemah Neormalasari Fajar.
2006. Psikologi Abnormal Edisi 9.
Jakarta : Raja Grafindo Persada
Junaedi, Didi. 2010. 17+ Seks Menyimpang
tinjauan dan solusi berdasarkan al-
Qur’an dan psikologi. Penerbit Sejuk
PT. Wahana Semesta Intermedia

http://m.hukumonline.com/klinik/detail/lt5125d3aaf3911/pasal-untuk-menjerat-anak-yang-lakukan-pencabulan

Pertanyaan 5⃣ ( Mba Frisdayani)

Kalau begini bisa dibilang penyimpangan juga kah mba? Anak perempuan yg tumbuh besar menjadi wanita dan ibu yang temperamen dan otoriter

Temperamen ini lebih kepada perilaku manusia ya.

Perilaku manusia merupakan hasil daripada segala macam pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungannya yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan.

Dengan kata lain, perilaku merupakan respon/reaksi seorang
individu terhadap stimulus yang berasal dari luar maupun dari dalam dirinya.

Jadi ini bukan termasuk penyimpangan seksual, tapi bentukan perilaku

_Pertanyaan 6⃣ (Mba Dini Nuraeni)_
Cara mendeteksi ada atau tidaknya penyimpangan seksual sejak usia muda ada ngga ya??

Coba menjawab yg ini ya

Untuk mendeteksi ada atau tidaknya penyimpangan seksual di usia muda, kita harus waspada dan coba mengamati dari beberapa faktor

Faktor internal:
Pernahkah si anak mengalami Krisis identitas ? Dan mengalami hal-hal di luar kebiasaannya seperti membentuk kelompok/geng, berpakaian dengan mode yang tidak sesuai,

Atau Kontrol diri yang lemah dengan adanya perubahan perilaku & temperamen .. menjadi mudah marah atau justru menjadi lebih pendiam

Faktor eksternal:
1. Amati Keluarga & Teman sebayanya, ada yang kurang baik atau tidam

2. Komunitas/lingkungan tempat tinggal yang kurang baik, misal banyak terjadi pengrusakan atau adanya peredaran pornografi

Jika ada kemungkinan2 di atas.. kita Harus lebih waspada dan peka utk mendeteksi adanya penyimpangan seksual pada remaja

– pada dasarnya pengasuhan bukan sekadar membuat anak nyaman, imunisasi lengkap, dan memberikan asupan bernutrisi. Lebih dati itu, pengasuhan menurutnya adalah apa yang dilakukan orang tua untuk anaknya, sejak sang anak bangun tidur sampai anak tidur lagi.( menurut dokter spesialis kejiwaan ), ketika sang anak berperilaku berbeda dengan identitas gendernya, maka harus dipastikan terlebih dahulu bagaimana orientasi seksualnya. Karena orientasi seksual ini sulit diketahui kecuali dari pengakuan jujur dari yang bersangkutan.

Pertanyaan 7⃣ (Mba Diah)
Apakah perlu kita jelaskan detail tentang bahayanya pergaulan antara anak laki”dan perempuan yang terlalu dekat,sama anak usia sebelas taun?
Was”si kaka suka ikut”an diajak temennya main sama Anak laki” 🙈

Untuk usia 11 tahun, kami ada referensi dari Ust. Harry Santosa (Buku FBE) mengenai apa yang harus dilakukan dan dijelaskan kepada anak mengenai seksualitas:

Usia 11 – 14 tahun

Usia ini sudah masuk tahap pre aqil baligh akhir dan pada usia ini mulailah switch/menukar kedekatan (Lintas gender)

Dalam tahap ini membutuhkan kehadiran orang tua untuk membersamai anak. Oleh karena itu penting untuk kita memahami betul bahwa di setiap tahap usia, kita selalu dibutuhkan dalam tugas yang berbeda untuk gender anak yang berbeda

Sebagai orang tua, kita juga perlu memperhatikan media yang ada di sekitar anak seperti TV, gadget, internet, dll. Pastikan bahwa kita tahu apa yang dlihat anak, kita dampingi anak ketika melihatnya dan berikan sudut pandang dan nilai yang tepat atas apa yang anak lihat. *PENUTUP * #fitrahseksualitas #fitrahestetika

Seorang ibu berusia sekitar 26 tahun, berbusana muslimah sangat rapih, sudah memiliki seorang putra usia 5 tahun, dengan sedih mengatakan bahwa dia tidak pernah bisa menjadikan suaminya sebagai sosok pria yang dicintainya.

Padahal menurutnya tiada yang kurang dari suaminya, dia tampan, gagah, bertanggungjawab, mencintai dirinya (istrinya), sangat sayang pada anaknya. Juga tidak ada lelaki lain di luar sana yang dicintai ibu itu, na’udzubillah.

Ibu muda itu, sambil mencoba nampak tegar, mengatakan bahwa dia sudah berusaha keras mencintai suaminya dan sering berdoa meminta agar Allah menjadikan hatinya condong kepada suaminya, namun belum bisa. Di awal pernikahan memang ada rasa tertarik atau suka, namun perasaan itu tidak pernah bertambah, ya begitu begitu saja.

Tadinya dia fikir ketika menikah maka rasa sukanya akan bertambah dan menjadi cinta, layaknya pasangan yang lain. Karena pernikahan seharusnya begitu bukan? Diawali rasa tenang, kemudian sayang lalu rasa cinta. Nyatanya tidak. Dia bahkan merasa tidak nyaman berada di dekat suaminya.

Ibu muda itu amat gundah, bahkan dia bercerita beberapa kali nyaris melakukan hubungan sejenis dengan perempuan lain atau lesbi, alhamdulillah belum pernah kejadian. Tetapi jika begini terus, cepat atau lambat hal ini bisa saja terjadi katanya.

Usut punya usut, ternyata ketika berusia 12 tahun, ayahanda dari ibu ini melakukan poligami, namun dengan cara yang tidak baik. Jarang pulang ke rumah dan sangat kasar. Dia mengaku sering ditampar dan dipukul ayahnya. Padahal di usia segitu, dia sedang membutuhkan kedekatan dengan seorang ayah.

Inilah rupanya penyebabnya. Dalam kajian pendidikan berbasis fitrah, ditemukan bahwa anak perempuan yang tidak dekat dengan ayah atau tidak memiliki sosok ayah pada usia 11-14 tahun akan menyebabkan berbagai penyimpangan fitrah seksualitas.

Gejala penyimpangan fitrah seksualitas yang paling umum adalah selalu haus akan sosok kasih sayang ayah atau cinta ayah. Mereka akan selalu mencari lelaki yang dapat memuaskan dirinya akan sosok ayah.

Mereka bisa menjadi petualang cinta, (maaf) dari ranjang ke ranjang menukar tubuhnya dengan segenggam “rasa cinta ayah” yang hilang atau tidak pernah hadir dalam hidupnya. Ini fitrah seksualitas dan cinta yang menyimpang karena tidak terpenuhi pada tahapan masa pendidikan fitrahnya.

Kehausan akan rasa cinta itu bagai fatamorgana yang tidak pernah terpuaskan. Konon sebuah riset mengungkapkan bahwa anak perempuan yang tidak dekat dengan ayahnya di usia 11-14 tahun, ternyata 6 kali berpeluang menyerahkan tubuhnya pada lelaki yang dianggap dapat menjadi pengganti sosok ayahnya.

Jika sudah menghantam masuk ke alam bawah sadar seperti ini maka harus ditangani serius agar sembuh.

Akibat yang kedua, jika anak perempuan tidak dekat dengan ayahnya pada usia 11-14 tahun, maka fitrah seksualitasnya akan menyimpang dalam bentuk membenci sosok ayah atau sosok lelaki, dia bahkan tidak mampu mencintai suaminya sendiri bahkan cenderung menjadi lesbian. Sosok ayah sama sekali tidak indah di hatinya.

Lalu bagaimana dengan anak lelaki? Hampir serupa. Anak lelaki yang tidak dekat dengan ibunya atau tidak memiliki sosok ibu, terutama pada usia 11-14 tahun, akan mudah melecehkan perempuan, suka berpacaran atau playboy.

Bahkan dalam kasus tertentu apabila anak lelaki membenci ibunya dengan amat sangat maka dia bisa menjadi gay.

Anak lelaki yang tidak dekat dengan ibunya, biasanya kelak menjadi suami yang kasar terhadap istri karena tidak pernah memahami perempuan dari cara pandang perempuan terhadap perempuan. Ini diperoleh secara alamiah apabila dia dekat dengan ibunya atau sosok yang bisa menjadi sosok ibu baginya.

Maka para orangtua terutama ayah kembalilah ke rumah, kewajiban utama adalah mendidik anak bukan mencari nafkah. Ketika anak anak beranjak remaja umumnya para ayah mulai menanjak karirnya, mulai menempati posisi penting dengan segala kesibukkannya.

Pada fase ini beberapa ayah mulai kaya dan nampak mulai ingin menikah lagi atau menjadi genit kembali dsbnya sehingga mengabaikan pendidikan fitrah anak anaknya.

Biasanya memboarding schoolkan anak yang belum aqilbaligh, usia 11-14 menjadi pilihan keluarga sibuk dengan beragam alasan, padahal fitrah seksualitas belum tumbuh benar.

Ingat bahwa fitrah seksualitas harus tumbuh paripurna bersama kehadiran penuh ayahibunya melalui kelekatan yang intens sejak dalam kandungan sampai aqilbaligh.

Banyak kasus LGBT terjadi di Boarding School di seluruh dunia. Itu karena memang semua fitrah manusia ini sejatinya harus terpenuhi dan berkembang termasuk fitrah seksualitas, jika tidak maka penyimpangan fitrahlah akibatnya.

Lihatlah Siroh atau perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW, beliau tidak pernah kehilangan sosok ayah dan sosok ibu sepanjang kehidupannya sejak dalam kandungan sampai aqilbaligh.

Maka fitrah seksualitas beliau tumbuh indah paripurna menjadi peran lelaki sejati dan peran ayah sejati dengan cinta sejati.

Salam Pendidikan Peradaban