Matrikulasi IIP batch 4

Posted: May 16, 2017 in Uncategorized

Alhamdulillah sekian lama berkutat dalam dunia blog, lebih sering vakum dan memang sudah lama tidak menjejakan kaki disini, akhirnya saya kembali menulis. 

Tulisan hari ini dan pekan-pekan berikutnya akan berkutat seputar Nice Homework saya selama menjadi mahasiswa di kelas matriks IIP. 


Semoga saya bisa menjalani perkuliahan ini dengan lancar yaa.. 

Bismillah.. 😊

Nice Homework #1 

Posted: May 6, 2017 in Uncategorized

Di pekan pertama ini, kami para mahasiswa IIP di kelas matrikulasi, belajar tentang Adab Menuntut Ilmu, kemudian setidaknya ada 4 tugas yang harus kami kerjakan dan semua nya berkaitan dengan universitas kehidupan yang kami jalani..

Iya, kehidupan menjadi seorang ibu itu bak mimpi kemarin sore. Mimpi yang diagungkan perempuan yang kerap merajuk pada orang tua nya. Mimpi yang selalu menuai perselisihan dan pergolakan di hati. Lalu seusainya, mimpi itu bahagia karena menjadi nyata..
Kemudian, apakah menjadi seorang ibu, tidak perlu berilmu?

Salah besar, kawan.. seorang ibu wajib berilmu. Bila untuk menjadi kepala sekolah saja seseorang harus menyelesaikan kuliah S1 bahkan S2, lalu bagaimana dengan seorang ibu yang ia melahirkan generasi penerusnya dan mendidik anak-anaknya? Bagaimana mungkin orang yang tidak memiliki ilmu akan memberikan ilmu kepada orang lain?

Allah Ta’ala berfirman

هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الألْبَابِ

“Apakah sama antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu? Sesungguhnya hanya orang yang berakal-lah yang bisa mengambil pelajaran.” (QS. Az-Zumar: 9)

Maka jawaban saya untuk pertanyaan petama tugas NHW#1, tentang Jurusan ilmu apa yang akan saya tekuni di universitas kehidupan? Saya ingin mendalami ilmu parenting. 

Lantas saya meluncur ke pertanyaan berikutnya tentang Alasan terkuat apa yang saya miliki sehingga ingin menekuni mimpi tersebut? Alasan yang sederhana, sebab saya ingin anak-anak saya merasakan kehadiran orang tua yang sebenarnya. Bukan hanya status, bukan hanya profesi semata. Tapi benar adanya orang tua yang menghadirkan aliran rasa, emosional, dan saya inginkan itu hingga kelak anak-anak dewasa dan saya pun renta, namun mereka tidak lupa. Dan semua itu butuh ilmu. 

Untuk strategi menuntut ilmu yang saya rencanakan dibidang ini, alhamdulillaah saya saat ini sedang mengikuti perkuliahan melalui whatsapp seputar Tarbiyatul Aulad (pendidikan anak) yang digawangi oleh Tim Komupedia (Komunitas Pendidikan Anak). Pengasuh kulwapp adalah seorang ustadz yang beliau juga bergerak di dalam bidang pendidikan. Selain itu, kulwapp juga diisi oleh seorang penulis dan pemerhati pendidikan anak. Alhamdulillah sejauh ini materi utama yang disampaikan berkisar seputar pendidikan tauhid untuk anak dengan membahas kitab Al qowaidul arba’. Dimana pendidikan tauhid menjadi pondasi utama bagi saya sebagai muslim untuk tetap khauf dan roja’ (takut dan berharap) pada Allah Sang Pencipta. 

Selain itu, strategi lain nya adalah dengan mengikuti kelas matrikulasi di Institut Ibu Profesional dimana saya bisa belajar, mengembangkan diri menjadi ibu yang memiliki bakat, potensi dan kemampuan agar dapat mendidik anak-anak dengan baik. 

Ditunjang dengan lahapan buku pendidikan anak sesuai Islam seperti buku Untukmu Anak Sholeh, Ensiklopedia Pendidikan anak, dan buku-buku lain yang mengisahkan tentang perjalanan para ibunda shahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, tentang bagaimana para ibu mendidik anaknya sampai pada derajat yang sholih.. Masyaa Allah Tabarokallah..

Dan untuk mencapai itu semua, saya harus melakukan perubahan dalam diri saya. Perubahan sikap apa saja yang saya perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut. Maka saya menukil nasehat Iman As-Syafi’i kepada muridnya, 

“Kalian tidak akan pernah mendapatkan ilmu kecuali dengan enam perkara, akan aku kabarkan kepadamu secara terperinci yaitu dzakaa’un (kecerdasan), hirsun (semangat), ijtihaadun (cita-cita yang tinggi), bulghatun (bekal), mulazamatul ustadzi (duduk dalam majelis bersama ustadz), tuuluzzamani (waktu yang panjang)

Berbekal nasehat ini saya harus mendisiplinkan diri, agar lebih optimal dalam menggunakan waktu luang. Sebab seorang muslim harus memaksakan diri dalam mendapatkan ilmu dengan semangat mencari keridhaan Allah.. Mengurangi waktu berbincang santai tanpa alur dengan teman-teman di grup whatsapp. Cukuplah kebutuhan menyalurkan 20.000 kata per hari disampaikan dalam kelas-kelas diswapp yang lebih bermanfaat.

Kemudian mengikat ilmu dengan pena.. 

Alangkah sia-sia bilamana usai mendapatkan ilmu, lalu terbengkalai begitu saja. Karena nya, ilmu-ilmu parenting yang ada, ke depan nya saya simpan lewat google drive agar dapat saya review kembali..

Akhir kata, semoga langkah-langkah dalam menuntut ilmu ini selalu dalam keikhlasan untuk mencari keridhaan Allah.. untuk mendidik anak-anak menjadi generasi islami yang senantiasa bermanfaat untuk agama.. Saya sadar, satu-satu nya jalan untuk mewujudkan mimpi  adalah dengan bergerak, melaju, bukan diam.

“Chase your dream. Don’t wait. The time will never be just right” (anonymous)



Siswa kelas matrikulasi IIP batch 4 Bekasi 2, 

Anna Fathiana


Referensi:

https://googleweblight.com/?lite_url=https://muslimah.or.id/3452-kiat-kiat-menuntut-ilmu.html&ei=JzPcqhGF&lc=en-ID&s=1&m=433&host=www.google.co.id&ts=1494899528&sig=ALNZjWmjBP7r1unggpiMMx95KJqxqhYw_w

Sebuah Proses..

Posted: January 4, 2015 in Uncategorized

Saat itu aku masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, sementara ibuku rahimahallah sudah berkepala lima. Ibuku yang sehari-hari mengabdi sebagai guru, setiap pekan di siang hari selepas mengajar, berganti profesi menjadi murid. Tepatnya, mahasiswa.

Dulu beliau hanya sebatas menyandang Sekolah Pendidikan Guru saat melamar kerja, namun kualitas SPG dahulu tidak perlu dipertanyakan. Mumpuni luar biasa. Dan di masa tuanya, beliau melanjutkan pendidikannya sebagai syarat penunjang karirnya. Lalu apakah pendidikan yang dijalaninya hanya sebatas mengejar gelar semata?

Tidak, kawan..

Saya saksi hidup dimana ibu saya menjalani proses perkuliahan sebagaimana mahasiswa pada umumnya.
Beliau datang di hari-hari perkuliahan dengan tubuh lelah usai bekerja. Beliau mengerjakan setiap tugas yang diberikan di sela-sela sibuknya. Bahkan beliau ikut terjun dalam KKL ke luar kota bersama teman-teman nya yang jauh lebih muda. Dan di akhir masa kuliah nya, beliau mengerjakan skripsinya dengan tangannya sendiri.

Aku berfikir, untuk apa di usia senja masih saja capek-capek menuntut ilmu?

Ibuku saat itu berkata,
“belajar itu ga kenal usia, na..”

Iya, ibuku tidak malu walau ia yang paling tua di kelas. Ibuku tidak segan bertanya pada dosennya yang sepantar dengan anaknya. Beliau tidak memilih menjalani perkuliahan instan yang tidak datang pun tidak masalah. Beliau tidak memilih untuk memakai jasa orang untuk membuat tugas akhirnya.
Berbeda dengan beberapa orang yang dengan alasan sibuk bekerja memilih kuliah instan dengan sistem akselerasi, yang tanpa hadir diperkuliahan pun bisa tuntas. Dan skripsi? Tinggal beli. Selesai sudah, S1, S2 bahkan mungkin S3 disandang dengan mudah. Dan lebih parah lagi, beberapa diantara lulusannya berada di dunia yang paling urgen bagi generasi muda.

Iya, memang lowongan pekerjaan di Indonesia menuntut gelar bukan keahlian. Tapi apakah begitu caranya kita menuntut ilmu? Terlebih sebagai muslim yang sudah faham hakikat berilmu tentu yang dicari bukan sekedar hasil akhir, melainkan prosesnya.

Dan aku belajar dari ibuku rahimahallah, bahwasanya bilamana kemudian ilmu itu tidak diaplikasikan dalam dunia kerja, tidak masalah. Yang penting adalah kita mendalami proses belajar itu yang tidak hilang sampai kapanpun.

Dan beliau yang mengabdikan diri sebagai seorang pendidik hampir di seluruh usianya, betul mengajariku arti belajar. Hingga tutup usianya beliau wanita yang senang mencari ilmu..

Karena belajar bukan sekedar untuk mencari gelar..

Proud of you, mom!
You’re my everything..

Aku harus bagaimana bila nuraniku berkata tidak?

Posted: February 9, 2014 in Uncategorized

Aku harus bagaimana bila nuraniku berkata tidak?
Apakah aku harus nekat menanggalkan gelar kebesaran dari Allah ini, dengan mengabaikan apa kata hati?
Lalu apakah kalian bisa menggantikan peranku sebagai mujahid(ah) dirumahku sendiri?
Dengar,
Mengapa aku rela menggadaikan ijazahku demi berlelah lelah,
Karena aku ingin syurga..
Pun aku tak ingin bertahun-tahun ke depan, anakku menuntut pembalasan atas ketidaknyamanannya semasa kecil
Atas kehilangan sosok ibu didalam rumah
Atas permainan yang kaku dari sebuah sandiwara hedonis
Aku ingin garis bibir anakku melengkung ke atas, menjadikannya seperti tenda terbalik, melihatnya apa?
Tertawa..
Usaikan saja menunjukku terus menerus..
Masa ku sebagai civitas akademika memang telah habis, tapi ilmuku tidak usang..
Maka cukupkanlah menarikku dengan kuat ke arah barat, sebab hatiku bernaung tenang di timur..
Menjalani peran sederhana dengan sebuah status ‘ibu rumah tangga’
Yaah..
Aku harus bagaimana bila nuraniku berkata tidak?

Sekolah.. oo.. sekolah..

Posted: February 8, 2014 in Uncategorized

Menjelang dibuka nya pendaftaran sekolah tahun ini, beberapa kali ditanya teman dan kerabat

“Azfa sudah sekolah belum?”

Terima kasih.. Ku nilai itu sebagai bentuk perhatian mereka..  🙂
Aku serta merta berkata “belum, Azfa baru 3 tahun”
dan ingin sekali menambahkan, bahwa aku enggan menyekolahkannya sampai ia benar-benar siap (matang) untuk menerima pelajaran. Sekitar usia 5 atau 6 tahun.
Namun sepertinya tahun depan aku terpaksa memasukkannya ke sekolah, menimbang disini SDI yang bagus sangat sulit untuk dimasuki, jadi harus masuk TK nya dulu supaya dapat bangku di SD. Kecil-kecil harus berebut bangku yaah.. 😀

Aaah, nak.. mudah-mudahan tahun depan bunda bisa ikut dalam antrean formulir itu yah.. walau rasanya enggan melepasmu sekolah dimasa bermainmu. Sebab akan ada masa 12 tahun engkau berkutat serius dengan buku, dan mungkin akan ditambah 4 tahun lagi, lalu ditambah lagi.. wallahu’alam.. sisa setahun ini kita bermain dulu yah, tak peduli yang lain bicara apa.. toh saat ini (dan setahun kedepan sebenarnya) kau tak perlu calistung, cukup hafalan sebab muatanmu memang belum layak untuk bisa melakukan hal-hal yang -mungkin menurut sebagian orang- luar biasa itu.

Hal-hal kecil yang hebat sudah bisa kau lakukan, dan bunda tahu itu. Bedanya di playgroup bekalmu adalah guru dan mainan, sementara dirumah kita bermain seadanya dengan alat sederhana bahkan peralatan dapur bunda, dengan imajinasi, kreativitas dan bermain peran. Kau bisa jadi masinis, pilot, supir, pedagang, pembeli, chef, dan wah.. banyaaaak..! Lalu kita membuat burung, pistol, excavator, pesawat, rumah, baju, gajah.. hanya dengan secarik kertas dan blocks! asiknyaaaa..! Kemudian kita bereksperimen gunung meletus dengan soda dan cuka, bermain gelembung udara, mengayuh sepeda, berenang, bermain bola, berlari, melompat.. wow menyenangkan, kan?

Well.. At least, there’s a beautiful moment for you to remember, kid..

and the most precious one is : we get a great bonding..

Yes, just the three of us..  🙂

Lovely_illustration_little_girl_showing_family_drawing_to_parents_wallcoo.com

Dan manusia pun berubah.. :)

Posted: December 9, 2013 in Uncategorized

Beberapa tahun silam, rasanya enggan memegang jarum jahit dan kawan-kawannya, kalau ada pelajaran jahit mending minta orang lain bikinin deh heheh.. :p

Lebih suka baca apa, keluarga dan sahabat lama ku sudah mengetahuinya.

Beberapa tahun silam, ke dapur aja bisa dihitung pakai jari dan niatnya juga bukan masak, ada niat terselubung.. icip-icip.. hihii..

Lebih suka bikin apa, keluarga dan sahabat lama ku sudah mengetahuinya.

Aneh, bila beberapa tahun belakangan ini muncul di timeline akun facebook ku soal masakan dan kreasi flanel
“Serius tu bikin sendiri???”
“Eh beneran, apa ga keracunan?? Wah harus nyobain nih”

Asem bener dah… 😀

butterfly-flying

Ternyata, manusia bisa berubah ya, kawan?

Bila merasa orang lain punya kelebihan ini-itu, sementara aku ga punya maka jawabannya cari dan gali. Mencari sendiri tentu lebih melelahkan dan lebih menyenangkan ketimbang bertanya pada orang lain, “kelebihanku apa ya?”, Ga bakalan ada yang jawab pas. Yang tau kelebihanmu ya kamu sendiri. Jangan memaksa diri untuk menjadi seperti orang lain.

Suka? Ya kerjakan. That’s it. Ga perlu menunggu untuk menjadi ahli bila sekedar mencoba sesuatu kan? Kalau tidak mencoba, lalu kapan menjadi bisa?

Belajar dan belajar.. Belajar ga mesti hadir di dalam kelas, lingkunganmu adalah kelasmu, dimana saja kau bisa belajar dan bereksplorasi.

Bersemangatlah.. 🙂

Snapshot

Ini Azfa, beginilah ia bila sudah turun ke jalan, mau belanja ke warung yang jaraknya hanya beberapa meter saja lamaaanyaaa bukan main. Berhenti dlu, jongkok dulu, nanya dulu.. hihihiiii..
Seperti pagi kemarin, tiba-tiba jongkok memperhatikan kucing sedang makan..
Azfa : “Itu kucing lagi ngapain bund?”
Bunda : “Lagi maem bang..”
Azfa : “Kuciiingg.. lagi ngapain kuciiingg… lagi maem yaa? kok diem aja kuciiing, maem apaan?”
Yaiyalah kucingnya asik lanjut maem, mungkin kata kucing, “ini bocah berisik amat sih, ganggu aje..”

Hihihiii…

That is my boy.. #hug

Image  —  Posted: November 26, 2013 in Uncategorized