NHW#7 Tahapan Menuju Bunda Produktif

Posted: July 11, 2017 in Uncategorized

Alhamdulillah setelah melampaui kelas matrikulasi Bunda Sayang dan Bunda Cekatan, pada pekan ini tema perkuliahan masuk pada kelas Bunda Produktif. Tema kali ini sudah amat saya tunggu, menjadi produktif memang sudah tekad saya selepas saya resign dari kantor pada awal tahun 2011 silam, yaitu setelah usia 1 tahun pernikahan.

Kenapa saya resign? Mungkin teman-teman bisa baca alasan nya disini. Yang pasti saat itu yang saya inginkan adalah keseriusan untuk beralih profesi dari seorang pekerja, menjadi seorang ibu.

Baiklah, tentang Nice Homework kali ini, para peserta kelas matrikulasi diminta untuk mengenal kekuatan diri masing-masing melalui tools dalam www.temubakat.com

Dan berikut adalah hasil nya.

Strenght Typology

Berdasarkan hasil tersebut, potensi kekuatan saya adalah:

  • Creator : Saya memiliki banyak ide, baik yang belum pernah ada maupun dari pikiran lateral
  • Designer : Selain memiliki sifat analitis, saya juga memiliki banyak ide
  • Educator : Saya selalu ingin memajukan orang lain dan senang melihat kemajuan orang
  • Interpreter: Saya cenderung analitis dan senang berkomunikasi
  • Producer: Saya adalah seorang pekerja keras, teratur dan tidak sabar bertindak
  • Synthesizer: Saya senang menggabung-gabungkan beberapa teori atau temuan menjadi satu temuan baru

Dan hasil lainnya adalah 50% dari Strength Cluster berupa Generating Idea (Menghasilkan Ide), ini berarti bahwa 50% dari diri saya menggunakan otak kanan/intuitif. Saya jadi teringat dosen Enterpreneur saya ketika masa perkuliahan dulu yang meminta kami, mahasiswa nya, untuk melakukan Brain Test sederhana dengan menggabungkan kedua tangan, dimana ibu jari yang paling atas menandakan fungsi otak yang paling dominan. Dan ibu jari saya yang selalu ada di atas adalah  ibu jari kanan, begitulah tipikal hasil orang yang memiliki fungsi otak kanan dominan. Dimana otak kanan berfungsi dalam perkembangan Emotional Quotient (EQ). Misalnya sosialisasi, komunikasi, interaksi dengan manusia lain serta pengendalian emosi. Pada otak kanan ini pula terletak kemampuan intuitif, kemampuan merasakan, memadukan, dan ekspresi tubuh, seperti menyanyi, menari, melukis dan segala jenis kegiatan kreatif lainnya.

Tentu saja, bukan tanpa alasan Allah menciptakan saya seperti ini. Selalu ada sebab dalam sebuah penciptaan. Ingatan saya kembali terlempar pada masa 6 tahun silam dimana saya yang sebelumnya tidak pernah merintis karir dalam bidang enterpreneur, justru nekat untuk menceburkan diri kesana sedalam-dalamnya. Kesulitan itu pasti, hanya saja saya selalu yakin dengan apa yang Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam sabdakan bahwasanya Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi (HR. Muslim).

Ibnul Qayyim berkata,

“Fokuskanlah pikiranmu untuk memikirkan apapun yang diperintahkan Allah kepadamu. Jangan menyibukkannya dengan rezeki yang sudah dijamin untukmu. Karena rezeki dan ajal adalah dua hal yang sudah dijamin, selama masih ada sisa ajal, rezeki pasti datang. Jika Allah -dengan hikmahNya- berkehendak menutup salah satu jalan rezekimu, Dia pasti –dengan rahmatNya- membukan jalan lain yang lebih bermanfaat bagimu.

Dan alhamdulillah Allah menjadikan saya seorang ibu, dengan menitipkan amanah yang Allah perintahkan untuk dijaga dengan sebaik-baiknya. Maka saya selalu tidak ambil pusing dengan keputusan yang sudah saya ambil. Meski stigma di luar sana mengatakan bahwa saya rugi telah menanggalkan ijazah yang telah saya raih selama 4 tahun lelah menimba ilmu di perkuliahan. To be honest, ketika saya memasuki dunia perkuliahan, mengambil jurusan yang menyimpang dari apa yang saya tekuni selama masa sekolah, maka saya yakinkan diri bahwa ‘Saya kuliah untuk belajar, bukan untuk mendapat ijazah’. Dan ilmu yang saya dapat, tentu tidak akan sia-sia, akan saya aplikasikan pada anak saya ketika mereka sudah siap menerimanya, dengan aktivitas yang menyenangkan.

Gaining knowledge is the first step, Sharing it is the first step too…

(anonymous)

Bicara aktivitas, selain mengisi tools dan melampirkan hasilnya. Kami juga diminta untuk membuat kuadran aktivitas. Dan inilah kuadran aktivitas saya (Since it doesn’t look like a quadrant. lol)

kuadran

 

Itulah klasifikasi aktivitas saya, dan bila kembali mengacu pada Strength Typology sebelumnya,  tampak ada yang sedikit lucu dengan analisa tersebut. Bukan, bukan analisa nya yang salah. Justru karena sangat mendekati kebenaran maka saya tersenyum. Saya tidak pernah bermimpi untuk berada di fase produktif ini. Masa remaja saya tidak pernah difokuskan untuk menjadi seorang creator. Iya saya pernah menulis dalam buku antologi, membuat sesuatu dari barang bekas, bahkan yang tidak bekas pun saya upcycle menjadi barang yang tampak berbeda. Tetapi dalam hal memasak, baking, apalagi crafting seperti menjahit, sesungguhnya baru saya temukan sekitar 4 tahun belakangan. Saat saya yang ketika itu kehabisan modal menjadi mompreneur, harus mempelajari banyak hal baru yang sebelumnya tidak pernah saya tekuni. Bisa jadi memang ada pengaplikasian passion, dari saya yang sudah senang menggambar semenjak kecil, ke dalam wujud baru. Dari menggambar di kertas, yang saat itu saya pikir tidak akan menghasilkan nilai jual apa-apa, ke dalam wujud kain dan cake. Tapi akhir-akhir ini saya sedang tertarik dengan dunia lukis dan handlettering, bisa jadi bila ada kesempatan saya akan terjun juga kesana. Hehe..

Productivity is being able to do things that you were never able to do before

(Franz Kafka- a novelist)

Hal yang menggelitik lainnya adalah ketika saya menulis poin ketiga tentang apa yang saya tidak suka, tapi saya bisa, Mengajar di Lembaga Resmi. Ini berkaitan dengan mengenyam pendidikan di bangku perkuliahan, dimana rata-rata output lulusannya selalu dituduh menjadi seorang guru. Hihii.. Iya selepas kuliah saya di jurusan Bahasa dan Sastra Inggris (non-pedagogic), Saya mengajar cukup lama di lembaga tidak resmi alias di bimbingan belajar yang cukup ternama saat itu. Karena walaupun saya sudah dilamar oleh salah satu perusahaan konsultan bahasa, saya memilih tempat yang lebih aman dan nyaman sebagai perempuan, yaitu mengajar.

Tapi untuk mengajar di lembaga resmi? Saya menyerah. Walau pada akhirnya saya pun mencicipnya dengan menyandang status sebagai guru sekolah selama kurang lebih 1 tahun. Kenapa saya tidak suka? Bisa jadi karena berkaitan fungsi otak kanan saya yang lebih suka kebebasan. Membayangkan diri menjadi terlalu kaku ketika berada di lembaga formal membuat saya enggan, walau setelah dicoba rasanya biasa saja, apalagi bertemu dengan murid-murid remaja yang cenderung saya rangkul sehingga kelas menjadi santai. Tapi untuk membuat perencanaan dan segudang laporan resmi lainnya, ternyata masih masuk dalam kuadran tidak suka. Dasar otak kanan! Hihihi…

Jangan pernah takut untuk mencoba hal yang sebelumnya belum pernah atau enggan dilakukan. Lakukan dengan hati ikhlas karena Allah, bukan semata-mata untuk mendapatkan penghasilan. Jalani ikhtiar dengan tetap berada pada koridor syari’at. Sebab apa-apa yang menjauhkan diri dari keridhoan Allah, maka tidak akan berkah. Dan apa-apa yang mendekatkan diri pada keridhoan Allah, maka niscaya akan Allah berkahi. Sejalan dengan apa yang guru saya sampaikan dikelas matrikulasi, bahwa rejeki itu datangnya dari arah yang tak terduga, untuk seorang ibu yang menjalankan perannya dengan sungguh-sungguh dan selalu bertaqwa. Rejeki hanya akan menempuh jalan yang halal, maka perlu menjaga sikap saat menjemputnya.

kemuliaan

 

Referensi:

Materi Kelas Matrikulasi IIP batch#4 sesi #7

https://rumaysho.com/10276-tak-perlu-khawatir-dengan-rezeki.html

 

 

 

 

 

Advertisements

Aliran Rasa

Posted: August 26, 2017 in Uncategorized

Ini aliran rasaku selama mengikuti kelas matrikulasi batch 4.Please enjoy.. 


Created with Slideshow Maker

http://goo.gl/uVdzuX

Bunga yang Tak Pernah Layu (Part 1)

Posted: August 16, 2017 in Uncategorized

Untukmu, Duhai bunga yang tak pernah layu
Untukmu yang telah mengusap air mataku
Untukmu yang telah membasuh kotoranku
Yang telah menyuapkan makan dan minum dengan tanganmu ke mulutku
Untukmu yang menjadikan haribaan sebagai ketenangan bagiku… *

Sudah beberapa hari aku tidak bisa tidur, berkelebat dalam mimpiku, tampak samar dan dingin, menunjukkan jalan setapak menuju rumah masa kecilku. Ahh.. mimpi apa ini, belakangan selalu muncul, membuat rasa gundah yang tak lekas hilang. Ada ratapan sedih, dan ada aku yang berjalan disana. Entah apa maksudnya.

“Bund.. Bunda? Lagi mikirin apa?” Suara lembut suamiku membuyarkan lamunan.

“Eh, ga mikirin apa-apa bi..”

Aku bergegas menuju dapur, melakukan aktivitas pagi seperti biasa. Putraku yang berusia 20 bulan masih terlelap, sebisa mungkin aku menyelesaikan rutinitas harian sebelum ia terbangun. Baru sekitar tujuh bulan kami menetap di rumah kontrakan ini setelah dua tahun tinggal di rumah orang tuaku. Memang rumah kontrakan kami yang hanya berupa petakan jauh lebih kecil dibanding rumah orang tua, tapi hati kami terasa lebih lapang tinggal disini. Bagaimanapun, hidup mandiri dalam rumah tangga adalah suatu hal yang harus dilewati. Meski kami melewatinya dengan perih, sebab ada saja onak dan duri untuk sampai kearah sana.

Matahari semakin tinggi, suamiku pamit untuk menjalankan tugasnya sebagai seorang qawwamuna ‘ala nisa’, pemimpin bagi kaum wanita dengan mencari keberkahan di antara kerasnya kerikil dunia. Baru beberapa bulan belakangan suamiku mendapat pekerjaan setelah lama menganggur. Maklum, kehidupan di Cileungsi tidak seaktif di Jakarta. Bila di Jakarta suami biasa berwirausaha, ternyata hal itu tidak bisa diterapkan disini. Berbulan-bulan menjalani usaha yang sama, ternyata hasilnya nihil. Lebih besar pasak daripada tiang karena rendahnya daya beli barang yang kami jual. Alhamdulillah, kami tidak pernah kelaparan, sebab Allah telah tetapkan rezeki bagi manusia dan mencatat takdir setiap makhluk lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Bahkan tidak ada selembar daunpun yang jatuh tanpa seizin Allah.

Dan hari ini rumah kami akan kedatangan tamu, tamu yang teramat istimewa bagiku. Seseorang yang telah melahirkan, membesarkan, menjagaku dengan sepenuh jiwanya. Lebih dari separuh ketaatanku untuknya, wanita yang kecintaannya melebihi kecintaanku padanya, Ibuku.

Bak orang yang mau kedatangan ratu, sedari pagi aku sudah berbenah. Ibuku agak kritis untuk soal kerapihan, meski tidak secerewet ayah. Namun yaa tetap saja, setidaknya membuatnya merasa nyaman itu sebuah keharusan. Rute Jakarta-Cileungsi dengan macet di sepanjang jalur alternatif Cibubur cukup membuat penat nenek berkepala hampir tujuh itu.

Aku berusaha menyajikan yang terbaik, membuatkan puding dan memasak makanan kesukaan ibu. Bagian ini yang lumayan menguras waktu. Meski usia pernikahanku sudah berjalan selama tiga tahun, tapi tetap aku agak canggung untuk memasak. Maklum, selama dua tahun di rumah orang tua, aku masih dimanjakan dengan fasilitas mereka yang memiliki asisten rumah tangga. Sebagian besar kesulitanku dibantunya, karena saat itu aku bekerja. Dan ketika memutuskan untuk berhenti bekerja karena aku melahirkan seorang jagoanpun aku masih dibantu. Praktis, keahlianku dalam masak-memasak masih dalam level jongkok.

Putraku sudah aku rapikan dengan semestinya. Jangan harap sang nenek akan tenang-tenang saja melihat cucunya tampak dekil. Bahkan baju yang cucunya pakai harus tampak rapi. Sebagaimana beliau perlakukan aku sewaktu kecil, tentu beliau ingin aku perlakukan anakku dengan layak juga. Jadilah kami berdua tampak sedap dipandang, menunggu di halaman sambil berharap, semoga nenek lekas datang ya.

(bersambung)

*syair diambil dari cuplikan di sebuah radio

NHW#9 Bunda Agen Perubahan

Posted: July 25, 2017 in Uncategorized

Akhirnya kelas matrikulasi IIP batch 4 sudah masuk ke pekan 9, artinya perkuliahan sudah masuk dipenghujung waktu. Ini bukanlah akhir, justru menurut saya ini adalah permulaan dimana saat nya merealisasikan apa yang selama ini direncanakan.

Materi di pekan ini adalah tentang Menjadi Agen Perubahan, yaitu tentang bagaimana memberi andil dalam perubahan di masyarakat menuju yang lebih baik. Sebab setelah mampu memperbaiki diri sendiri, keluarga, maka seorang ibu harus berperan dalam lingkungannya. Sebab lingkungan memiliki efek besar bagi anak-anak kita. Bila mereka tumbuh dalam lingkungan yang baik, maka diri pun menjadi baik, begitu pula sebaliknya.

Dari Abu Musa Al-Asy’ariy radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Permisalan teman duduk yang shalih dan buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Adapun penjual minyak wangi, bisa jadi ia akan memberimu minyak wangi, atau kamu akan membeli darinya atau kamu akan mendapat bau harum darinya. Adapun tukang pandai besi, bisa jadi ia akan membuat pakaianmu terbakar, atau kamu akan mendapat bau yang tidak sedap darinya.” (HR. Bukhari No. 2101, Muslim No. 2628)

Karenanya kembali saya mereview apa yang sudah saya tulis dari Nice Homework satu sampai delapan, beragam mimpi dan rencana yang sudah saya jabarkan disana. Sebisa mungkin saya coba kolaborasikan satu dengan yang lainnya, hingga jatuh pada final kemana social venture yang akan saya implementasikan di NHW kali ini. Sempat terpikir, apakah seperti tidak fokus? Bisakah saya merambah beberapa bidang dalam satu lini? Optimis saya katakan, in syaa Allah bisa. Bukankah menjadi produktif ilallah adalah sebuah kesempatan yang luar biasa selagi tidak meninggalkan apa-apa yang disyari’atkan.

“The pessimist sees difficulty in every opportunity. The optimist sees the opportunity in every difficulty.”
-Winston Churchill

Dan disinilah saya mencoba meramu sebuah Ide Sosial yang berangkat dari Minat/Ketertarikan (passion) serta isu sosial di masyarakat, lalu berusaha untuk berempati di dalamnya.

social venture

Saya menuliskan sekaligus empat minat saya di kolom ketertarikan bukan tanpa alasan. Keempat hal tersebut menjadi bekal dalam pengaplikasian social venture saya kelak, didukung dengan skill saya sebagai Creator, Educator dan Designer seperti yang sebelumnya dijabarkan disini. Maka berangkat dari isu sosial tentang anak-anak serta remaja yang lebih suka menghabiskan waktu bermain game online, ditambah dengan masih banyaknya ibu yang belum memiliki pemberdayaan diri, saya ingin membuat sebuah social venture yang saya beri nama ‘Atelier’. Kata ‘Atelier’ sendiri diadaptasi dari bahasa Perancis yang kemudian secara literal diserap ke dalam bahasa Inggris.

Atelier
a workshop or studio, especially one used by an artist or designer.
synonyms: workshop, studio, workroom

Mengapa social venture saya berbasis online?

Berdasarkan Survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2016, lebih dari setengah penduduk Indonesia kini telah terhubung ke internet. Ada kenaikan sebesar 50% dari survei di tahun sebelumnya. Artinya, kemungkinan besar ke depannya akan bertambah lagi para pengguna internet di Indonesia. Dan lagi, dengan basic suami yang saat ini berkecimpung di bidang IT, memudahkan saya untuk merealisasikan mimpi besar ini, In syaa Allah.

Seperti pada umumnya workshop, yang berarti sebuah tempat atau kegiatan belajar yang berkaitan dengan keterampilan untuk membuat sesuatu, saya berharap ada sebuah output nyata yang dihasilkan dalam setiap kegiatan di ‘Atelier’. Karenanya di dalam ‘Atelier’ saya berencana membuka beberapa fitur yang saya sebut dengan ‘bengkel’, seperti berikut:

  • Bengkel Menulis : Fitur yang berisi tentang karya tulis teman-teman Atelier.
  • Bengkel Art and Crafting: Fitur yang berisi tentang karya seni dan kerajinan tangan.
  • Bengkel baking: Fitur yang berisi foto dan resep yang bisa diaplikasikan dan berdaya jual
  • Bengkel bahasa: Fitur yang berisi tentang pelajaran bahasa Inggris yang mudah dipelajari semua kalangan

Fitur-fitur berbasis online ini akan dilengkapi dengan Messenger atau sangat mungkin diarahkan ke dalam platform Whatsapp Group yang akan memudahkan penggunanya untuk saling berinteraksi. Nah, kelak tentu tidak hanya berjalan secara online saja, ‘Atelier’ juga harus dibarengi dengan pertemuan offline agar workshop berjalan maksimal.

Selain itu, di dalam nya saya juga ingin membuat Taman Bacaan berbasis online, yang berisi aneka E-book dan jurnal yang dapat diunduh dan diakses secara gratis oleh para pengguna nya. Memiliki taman bacaan sudah semenjak single saya impikan. Saya dahulu rajin mengunjungi pameran-pameran buku atau membeli buku-buku impor bekas yang menurut saya berkualitas. Jadi selain berbasis online, saya juga berharap kelak memiliki Taman Bacaan offline yang bisa dimanfaatkan oleh lingkungan sekitar.

Tidak ada yang salah dengan mimpi dan keinginan.. selagi mimpi itu tidak menjadikan diri ini lupa pada sang Maha Pencipta. Ada kalanya mimpi yang disertai ikhtiar keras dan ambisi bermuara pada realita yang membahagiakan. Namun bila tidak, maka bersabarlah, kelak ada masa dimana selalu ada jawaban pasti untuk tanda tanya besar.

“Namun satu hal pasti yang dapat kutarik kesimpulan dari semua ini, paling tidak untuk diriku sendiri, adalah: beranilah bermimpi! Beranilah memiliki keinginan! Walau pikiran sadar kita menafikan kemungkinan-kemungkinan itu, tetap beranilah menetapkan tujuan. Karena nyatanya, ketika kita berani memutuskan untuk menggapai mimpi kita, alam bawah sadar kita justru bekerja membantu kemungkinan-kemungkinan mimpi tersebut menjadi kenyataan. Dengan dan lewat cara yang tak pernah kita duga sebelumnya.”
Daniel Mahendra (penulis)

Demikian saya sudahi Nice Homework sesi sembilan, semoga para ibu yang memiliki mimpi tetap bertahan pada kesamaan paradigma yang kerap didengungkan, “Mendidik satu perempuan sama dengan mendidik satu generasi”.

Jangan pernah lelah bermimpi..

CYMERA_20170725_150948

Referensi:

https://muslimah.or.id/2755-lihatlah-siapa-temanmu.html

http://tekno.kompas.com/read/2016/10/24/15064727/2016.pengguna.internet.di.indonesia.capai.132.juta.

Materi IIP batch 4 sesi 9

NHW#8 Misi Hidup dan Produktivitas

Posted: July 19, 2017 in Uncategorized

Materi matrikulasi di pekan ke delapan masih berkaitan dengan materi sebelumnya, yaitu belajar menjadi bunda produktif. Bila sebelum nya kami diminta untuk merumuskan misi, maka di nhw kali ini rumusan tersebut akan digali secara teknis. 

Pertama, kami diminta untuk mengambil satu aktivitas dalam kuadran suka dan bisa. Banyak hal yang saya tuliskan di kuadran aktivitas suka dan bisa terdahulu. Beberapa sudah berjalan secara produktif dan menelurkan karya beragam. Ada banyak misi yang saya inginkan menjadi nyata ke depan nya. Dan dari sekian banyak aktivitas, saya memilih ranah menulis. Kenapa? Saya ingin kembali aktif menulis, kembali membenahi apa yang lama saya tinggalkan. Minimal kembali mengisi blog yang telah usang. Alhamdulillaah dengan mengikuti kelas matrikulasi secara tidak langsung melatih saya untuk kembali menuangkan pikiran dalam tulisan. 

Next question is about “BeDoHave”, tentang ingin menjadi apa, apa yang akan dilakukan, dan apa yang dimiliki. 

BE

Saya ingin sekali menjadi penulis dan illustrator lepas, menghasilkan karya tulis atau menuangkan keahlian saya di bidang bahasa Inggris dalam buku bilingual. Minimal, berkontribusi dalam buku yang ilustrasinya saya buat sendiri. 

DO

Untuk mencapai cita-cita, setiap manusia harus berusaha. Angan-angan tanpa usaha tentu sia-sia. Sebaliknya, bila berusaha tentu akan ada hasilnya. Bukankah usaha tidak akan mengkhianati proses? 

Man can have nothing but what he strives for..

(QS An-Najm: 39)

Karena nya, saya akan berusaha berlatih menulis, mengisi yang kosong dengan memperbanyak membaca, masuk dalam komunitas menulis seperti rumah belajar menulis IIP, melakukan blog walking dan berkenalan (lagi) dengan para blogger. Well, I used to do this somehow..

HAVE

Seperti tes bakat yang sudah saya ikuti pekan lalu, saya memiliki strength sebanyak 50% dalam generating idea. It’s such a big percentage to support my dreams. Dan mimpi yang ingin saya gapai adalah saya ingin memiliki buku hasil karya saya sendiri. Rasa nya belum cukup puas memegang buku antologi saya bersama teman-teman di kampus dulu. Setiap individu tentu berkesempatan melebarkan sayap, bukan? Saya ingin mencapai itu tanpa meninggalkan bisnis yang sudah saya jalani selama ini. Yang pasti tetap di handle dari rumah, sebagai ibu profesional yang produktif. Semoga bisa ya. 

Lifetime Purpose

Bila ditanya, apa yang ingin saya capai dalam kurun waktu kehidupan. Maka jawabannya adalah, saya ingin berkarya tanpa meninggalkan prinsip syari’at yang saya emban selama ini. Saya percaya akan keterlibatan produktivitas terhadap manifestasi rezeki.  Namun bukan berarti harus menjalani serangkaian aktivitas yang menjauhkan diri dari tugas utama saya sebagai ibu. 

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka”. [Ath Thalaq : 2-3].

Di dalam tafsirnya, Al Hafizh Ibnu Katsir berkata: “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah dengan melakukan apa yang diperintahkanNya dan meninggalkan apa yang dilarangNya, niscaya Allah akan memberikan kepadanya jalan keluar dari seluruh problem kehidupan dan memberi rezki dari arah yang tidak di sangka-sangka. Yakni, dari arah yang tidak pernah terlintas dalam benaknya.”

Menjadi ibu profesional kebanggaan keluarga yang produktif. Itu misi utama saya dalam kehidupan (lifetime purpose). Apa-apa yang berjalan kemudian adalah bonus dari Allah bagi saya. Pena telah diangkat, dan lembaran telah mengering.. Allah telah menetapkan manusia untuk berjalan dari satu takdir ke takdir lain nya. Begitupun takdir saya sebagai ibu, harus saya jalani sebaik-baiknya. 

Nothing exist without a purpose. Every experience you have in this lifetime was written for you to grow into the light you were meant to be..

(quote)


Strategic Plan

Untuk mencapai ibu profesional yang produktif sebagai lifetime purpose, tentu saya harus memiliki rencana. Setidak nya dalam kurun 5-10 tahun mendatang, bila Allah mengizinkan, saya ingin :

  • Pergi haji ke baitullah bersama keluarga
  • Menelurkan karya tulis dalam sebuah buku 
  • Bisnis onlineshop berkembang pesat dan berjalan autopilot
  • Memiliki rumah sendiri dengan kebun yang luas. 
  • Mengelola taman bacaan mandiri dan ruang baca terbuka

New Year Resolution

Sejujurnya, saya tidak pernah membuat resolusi tahunan. Tapi kalau boleh berharap, resolusi saya dalam satu tahun ke depan adalah saya ingin menjadi active blogger dan penulis lepas, serta memiliki karyawan tetap dalam produksi kue kering dan kaos flanel, sebagai langkah konsisten untuk mencapai strategic plan dalam jangka panjang. 

Semoga saya bisa menjalani satu demi satu tahapan untuk mencapai kesuksesan. Namun sejati nya, sukses yang abadi adalah ketika kita tiba di negeri akhirat dimana tidak ada lagi kepayahan yang mendera, kembali ke kampung halaman, di syurga nya Allah.. Semoga waktu yang berjalan tidak sia-sia dan apa-apa yang dilakukan tetap berjalan dalam koridorNya. Sebab kelak kita akan di tanya, tentang waktu yang kita habiskan untuk apa.. 

Referensi:

Materi kelas matrikulasi batch 4, sesi 8

https://almanhaj.or.id/2770-kunci-sukses-mengais-rezeki.html

 

Blackforest Cake

Posted: July 8, 2017 in Uncategorized

Dari semenjak bulan Ramadhan, Azfa kepingin banget kue cherry. Ribut aja request itu melulu.. Saya belum sempat buatkan karena saat itu sedang fokus membuat kue kering. 

Kue kering Rarupa

Sudah lama saya ga bikin cake hias, memang sengaja tidak saya iklankan. Sebab agak susah berkonsentrasi dalam membuatnya, maklum anak-anak aktif saya sulit di ajak kompromi bila saya sudah masuk dapur.. Terakhir saya membuat cake hias itu kalau tidak salah sekitar tahun 2014. Hihi… sudah lama sekali ya.. 

Blackforest pesanan dahulu kala

Akhirnya kemarin ada yang order blackforest, jadilah sekalian saya buatkan untuk anak-anak.. sekaligus saya ingin melatih tangan saya yang sudah lama tidak membuat cake hias. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui.. hehe.. 

Ada beberapa resep pilihan yang saya ambil untuk membuat cake ini. Namun pilihan saya jatuh pada sponge cake coklat sebagai based cake dengan resep ibu Fatmah Bahalwan yang saya modifikasi sedikit.. 

Adonan sponge cake

Membuat adonan sponge cake susah-susah gampang. Teknik nya harus sesuai, salah sedikit adonan menjadi bantet dan tidak spongy. 

Jujur saya tidak terlalu suka kue jenis buttercream seperti ini karena beberapa kali menemukan cake di pasaran yang manisnya keterlaluan dan butternya terasa ngendal di lidah dan langit-langit mulut. Karenanya saya memakai takaran gula yang cukup agar cake nya tidak kelewat manis, mengingat nantinya cake ini akan di hias full whipped cream dan penuh dengan hutan coklat. 

Untuk hiasan, tadinya saya memakai pagar coklat ulir persegi panjang. Namun karena cake ini berukuran tidak terlalu tinggi, jadilah pagarnya saya cut acak di satu sisi agar sesuai dengan ukuran cake nya.

Cake siap diambil customer.. kalau yang punya anak-anak sudah diobrak abrik bocil begitu kelar dihias, penampakan nya sudah memprihatinkan hahaa.. 

Alhamdulillaah semua suka karena rasa manis nya light, ga bikin eneg.. Azfa pun suka, “Enaak bund” kata nya. Begitu juga Aiyra yang sekitar mulut nya belepotan coklat dan krim. “Enaaaaa”, hihihi… 

Testimoni customer

Untuk teteh yang disana, jazaakillahu khoir atas pesanan nya ya. Terima kasih sudah membangunkan saya dari tidur nyenyak yang lama, hihi.. Barokallahu fiik.. ❤

Cake di dalam mika

NHW#6 Bunda, Manajer Keluarga

Posted: July 5, 2017 in Uncategorized

Alhamdulillaah setelah usai Ramadhan, kelas matrikulasi IIP batch 4 kembali diaktifkan. Agar efektif, kelas langsung masuk pada materi tentang Ibu Manajer Keluarga Handal. Profesi yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya, memiliki ‘jabatan’ tinggi dalam manajemen rumah tangga, sebuah amanah yang tentu tidak bisa dikerjakan asal-asalan. Apalah saya yang sudah melewati sepuluh ribu jam terbang menjadi seorang ibu namun belum maksimal dalam mengatur rumah tangga. Dan hal pertama yang saya lakukan adalah mencari tahu apa tugas utama seorang manajer. 

Menurut Atmosudirdjo (1975) , tugas utama manajer adalah:

a. Menentukan segala apa yang harus dicapai atau diselesaikan (the setting of objectives)

b. Memimpin segala aktivitas dan segala sesuatunya untuk menyelenggarakan pencapaiannya (leading the activities towards accomplish-ments), dan

c. Membuat segala sesuatunya tercapai sesuai dengan apa yang telah ditentukan sebelumnya (securing results according to predetermind objectives standards).


Dari penjelasan di atas, poin pertama menyebutkan  bahwa tugas utama manajer adalah menetukan segala apa yang harus dicapai. Artinya, harus ada kesepakatan antara saya dan waktu agar segala nya bisa terjadwal dengan baik. Bila tidak, semua tugas tampak terlihat sangat penting sebab deadline yang berdekatan. 

“No body is too busy, it’s just a matter of priorities”

(anonymous)

Seperti yang dilansir dari website youthmanual, untuk menentukan prioritas, kita dapat membagi pekerjaan-pekerjaan dalam empat kategori:

  1. Pekerjaan penting dan mendesak
  2. Pekerjaan penting tapi tidak mendesak
  3. Pekerjaan penting dan tidak penting tapi mendesak
  4. Pekerjaan tidak penting dan tidak mendesak.

Dan dalam NHW kali ini, kami diminta untuk menuliskan 3 aktivitas paling penting, dan 3 aktivitas paling tidak penting. 

Tiga aktivitas paling penting:

  1. Memenuhi kebutuhan suami dan anak-anak
  2. Mengerjakan NHW sebelum batas deadline (selama kelas matrikulasi)
  3. Melayani customer toko online dengan menyelesaikan PO sebelum waktu yang di janjikan

Tiga aktivitas paling tidak penting:

  1. Stalking di jejaring sosial
  2. Berbincang di grup WA berlarut-larut
  3. Mengobrol lama dengan tetangga

Rencana kegiatan harian:

04.00 – 07.00  Mencuci pakaian, memasak sarapan, sholat subuh dan mengaji, menyiapkan sarapan dan bekal, belanja untuk masak di siang dan sore hari. 

07.00 – 10.00 Menjemur pakaian, bebenah rumah, menyiangi sayur dan lauk, Memasak untuk makan siang sekaligus sore (kecuali sayur dimasak mendadak sebelum makan), menemani Aiyra bermain

10.00 – 13.00 Saatnya We Time bersama Aiyra dan Azfa, menemani Azfa bermain selepas sekolah, makan siang bersama, sholat dzuhur berjama’ah dengan Azfa di rumah, mereview pelajaran Azfa di sekolah. 

13.00 – 15.00 Menemani anak-anak tidur siang, Menyimak WAG qowaidul arba’ dan pendidikan anak islami dengan format rekaman dan interaktif

15.00 – 17.00 Mengepel dan bebenah rumah sesi 2, sholat ashar, menyiapkan makan sore, menyambut suami pulang kerja, makan sore bersama

17.00 – 19.00 Sholat magrib dan mengaji, mendengarkan Azfa setoran hafalan dan muroja’ah surat sebelum nya

19.00 – 21.00 Sholat isya, pillow talk dengan suami dan anak-anak, menemani anak-anak tidur

21.00 – 23.00 Mengerjakan PO kaos flanel sebelum kemudian diberikan kepada asisten keesokan harinya, Mengerjakan Me Time seperti decoupage atau berlatih handlettering, Membaca buku atau artikel bermanfaat, Menulis blog.

23.00 – 04.00 Tidur

Mungkin sekilas tampak saling berseberangan antara menjadikan pelayanan customer online shop sebagai prioritas utama, tapi mengerjakan nya di akhir waktu. Sebetulnya ada alasan sendiri kenapa saya mengerjakan tugas tersebut pada malam hari, sebab hanya di waktu itu saja waktu keluarga tidak terpangkas. Satu komitmen saya sejak saya membuka online shop adalah saya tidak ingin waktu bersama keluarga tebuang sia-sia, karena nya saya mendelegasikan tugas menjahit pada rekan-rekan asisten saya. 

“Time spent with family is worth every second..”

(Anonymous)

Semoga saya bisa tetap konsisten pada jadwal yang sudah saya rencanakan dan saya jalani sebelumnya. Sebab waktu yang sudah usai tidak akan kembali.. jangan sampai terbuang sia-sia agar kelak tidak berada dalam kerugian..

Referensi :

http://firman25.blogspot.com/2013/10/tugas-tugas-manajer.html
http://www.youthmanual.com/post/dunia-kuliah/kehidupan-mahasiswa/cara-membedakan-antara-kerjaan-penting-kerjaan-mendesak-dan-kerjaan-nggak-penting
https://muslim.or.id/2535-tafsir-surat-al-ashr-membebaskan-diri-dari-kerugian.html