Cerdas Finansial #Day10

Posted: July 7, 2018 in Uncategorized

Seringkali saya katakan pada abang, bahwa di dalam setiap rezeki yang kita dapatkan selalu ada hak orang lain. Mengajarkan dirinya bahwa tabungan yang utama bukanlah di celengan, atau pada rekening bank, melainkan apa yang kita infaqkan pada orang lain. Tabungan akhirat yang akan berguna dan menolong kita di hari penentuan kelak. Karenanya abang antusias sekali bila hari jum’at tiba, sebab di hari jum’at ia dapat membawa uang untuk diinfaqkan di sekolah, atau bila libur ia dapat membawanya ke masjid.

Seperti yang terjadi kemarin, hari jum’at tiba saatnya abang sholat jum’at di masjid bersama abi. Biasanya abang membawa infaq yang diberikan bunda atau abi. Tapi kali ini berbeda, sebeljm berangkat menuju masjid, abang tiba-tiba berucap:

“Bund abang mau infaq dari uang abang ya”

“Ooo boleh banget bang.. itu abang bawa berapa?”

“Ini bund, 2rb buat infaq.. 2rb buat jajan.. bunda mau sesuatu ga? abang beliin nih 2rb aja ya” ujarnya menawarkan

“Wah bunda mau dibeliin apa nih?”

“Somay mau bund?”

“Mau, tapi bunda beli sendiri deh, titip ya bang, kalo kurang abang tambahin.. hihiii.. ” jawabku seraya memberinya uang 5rb rupiah. 

Alhamdulillah pulang-pulang betul bawa siomay, plus cilor.

“Wah uangnya kurang dong bang?”

“Iya kan dibayarin abi kurangnya..” 

Hihiiii maa syaa Allah.. Jazaakallahu khoiron abaang..
#Tantangan10Hari

#Level8

#KuliahBunsayIIP

#RejekiItuPastiKemuliaanYangDicari

#CerdasFinansial

Advertisements

Cerdas Finansial #Day9

Posted: July 6, 2018 in Uncategorized

Alhamdulillah sore kemarin abang sukses membantu bunda mengemas tahu. Semua pekerjaan dilakukannya dengan baik. Dari mulai mengemas tahu ke dalam plastik mika, sampai menempel label, menandai dan memasukkannya ke dalam freezer. Saya tidak mengizinkannya men-steples, biar itu menjadi bagian saya sebab ia belum dapat melakukannya dengan baik, saya khawatir membiarkannya menggunakan stepler sendiri justru mambahayakan dirinya.

Yang lucu ketika saya membayar upah, saya katakan bahwa saya akan membayarnya dengan uang untuk hasil pekerjaannya ini. Lalu ia menjawab, 

“Kalau gitu nanti aiyra juga abang kasih upah ya de..” katanya serius sebab aiyra telah membantunya mengemas tahu

“Wah aiyra jadi asisten abang yaa..” ucapku geli

Sesuai yang aku janjikan, aku membayarnya sebesar empat ribu rupiah dengan pecahan dua ribu. 

“Kira-kira.. mau abang apakan uang ini bang?”

“Hm… yang dua ribu abang tabung, yang dua ribu lagi abang jajanin bund”

“Baiklah, yuk disimpan uangnya ya”

Kemudian ia bergegas menyimpan uangnya di kedua tempat yang tepisah. 

Alhamdulillah abang sudah mengerti mengelola uang ‘gaji’nya yaa bang.. barokallahu fiik.. 

#Tantangan10Hari

#Level8

#KuliahBunsayIIP

#RejekiItuPastiKemuliaanYangDicari

#CerdasFinansial

Cerdas Finansial #Day8

Posted: July 5, 2018 in Uncategorized

Kemarin kami mendapat cemilan dari fasilitator kami tentang Mengajari Anak Menabung. Beberapa pointers mengenai langkah-langkah mengajarkan menabung pada anak dijabarkan disana. Abang Alhamdulillah sudah faham tentang konsep menabung, sempat abang mendapat celengan hadiah dari lomba tujuh belas agustus yang ia ikuti di lingkungan rumah kami. Senangnya bukan main. Pernah juga kami mengajaknya ke bank untuk membuka rekening, saya pikir akan lebih aman bila uangnya disimpan atas namanya sendiri yang kelak dapat ia pergunakan sebagai investasi jangka panjang. Sayang, pihak bank menolak sebab abang belum cukup umur. Tidak patah semangat, di usianya yang sudah cukup nanti kami akan mengajaknya untuk membuka rekening lagi.

Ada satu pointer yang tiba-tiba saya tertarik untuk meng-highlight-nya. Tentag melatih anak bekerja lalu mendapat kompensasi dari hasil pekerjaannya. Entahlah, saya masih concern bahwa membantu orangtua bukan suatu pekerjaan yang harus di gaji dengan uang. Saya lebih kepada, sudah seyogyanya seorang anak membantu orangtua, tanpa pamrih.

Saya pernah mempraktikan hal ini usai saya membaca artikel dari salah satu praktisi parenting. Ketika saya meminta si sulung membantu dengan memberinya upah, lalu tiba-tiba keeseokan hari ia mengulanginya, menawarkan diri dan meminta upah. Saya pikir, bukan ini yang seharusnya terjadi. Ada bagian dimana sebuah life skill memang sesuatu yanh harus ia latih dan ia kerjakan secara naluri, bukan sesuatu yang harus digaji. Entahlah saya menjadi berpikir, apa harusnya saya sounding lebih rutin lagi soal ini. Tapi saya tak mau ambil pusing. Kebetulan saya berjualan online, saya cenderung memintanya untuk ‘bekerja dengan gaji’ di ranah itu. Dengan artian itu betul-betul suatu pekerjaan.. sementara membantu orang tua itu kewajiban, tanpa harus disuruh, tanpa harus digaji. You’ll get your reward from Allah. 

Seperti siang ini, si sulung sudah cerewet sekali berpesan ingin membantuku merepack tahu bakso yang aku jual. Iya, biasanya dia membantuku mengemas, lalu menempelkan sticker dan menceklis pilihan rasa pada sticker. Biasanya memang tidak pernah sempurna, kadang stickernya upside down alias terbalik, hihii.. atau miring.. pernah juga aku menemukan ceklis yang coretannya kemana-mana. Tapi bagiku itu bukan masalah, namanya juga magang, ya ga? 

“Abang mau kemas tahu bund.. kapan kita packingnya?”

“Sore yaa bang.. tidur siang dulu sekarang”

“Iyaaaa bund”

Dia senang sekali dijanjikan seperti itu sebab tiap kali pekerjaannya selesai hingga semua tahu bakso masuk ke dalam freezer, dia akan mendapat upah, makan tahu bakso gratis.. 😅

Aha, Bagaimana kalau saya tawarkan uang sebagai kompensasi dari pekerjaannya? Hmm.. saya ingin tahu akan ia apakan uangnya itu. Akan ditabung atau dibawanya ke warung untuk jajan yaa..? 

#Tantangan10Hari

#Level8

#KuliahBunsayIIP

#RejekiItuPastiKemuliaanYangDicari

#CerdasFinansial

Cerdas Finansial #Day7

Posted: July 4, 2018 in Uncategorized

Alhamdulillah abang sudah membagi uang lebarannya ke dalam pos-pos yang disepakati bersama. Karena abang belum memiliki rekening, maka uang tabungan dan investasi dititipkan pada rekening abi. Tersisa uang 200rb untuk pengeluaran yang belum tau akan ia habiskan untuk memenuhi kebutuhannya atau tidak.

Bicara tentang kebutuhan, Alhamdulillah abang semenjak kecil sudah diberi pemahaman bahwa membeli sesuatu sesuai dengan kebutuhan saja. Jadi meski abang menginginkan suatu barang tapi abang tidak butuh, ya tidak perlu dibeli. Saya bersyukur selama ini tidak pernah ada drama rengekan bila mengajaknya berbelanja kemana saja. No trantrum, belanja selalu menyenangkan. Manusiawi bila menginginkan sesuatu, tapi saat diberi pertimbangan ia pun bisa memutuskan dengan baik. Kami terbiasa bernegosiasi dengan perkataan:

“yakin abang mau itu?”

“Beneran dipakai ngga?”

“Sudah ada kan di rumah..”

“kita cari yang lain aja gmn.. yang lebih perlu”

Atau semacamnya.

Alhamdulillah it works on my kids. Yes, both of them. Adikpun tidak pernah merengek untuk meminta sesuatu yang ia inginkan.

Termasuk saat membeli baju dari uang lebarannya. 

Saya bilang, “bang, baju rumah abang kan sudah ada yang belel, kita belanja yuk.. tapi fokus ya kita beli baju rumah aja, ga beli mainan atau yang lain. Kecuali bunda dan abi menawarkan” saya selalu membiasakan berkata seperti ini sebelum berangkat belanja hingga tertanam di benaknya, beli yang perlu tinggalkan yang tidak perlu.

Berangkatlah kami menuju pusat perbelanjaan. Wah ada yang lagi sale, 100rb dapat 3 items. Kami persilahkan abang memilih sendiri barang yang ia inginkan. Karena boleh mix dengan baju anak perempuan, saya katakan pada abang, 

“Adik juga beli ya bang, adik satu abang dua.” Menurut saya ini adil karena baju rumah adik masih cukup bagus ketimbang baju abang yang sering dipakai main keluar.

Setelah memilih,  abang dan adik pun membawa pulang baju yang mereka inginkan. Dan dari sisa pengeluaran yang 200rb kemarin, dikurangi belanja pakaian sebesar 100rb, maka tinggal tersisa 100rb lagi yaa.. Alhamdulillah 😊

#Tantangan10Hari

#Level8

#KuliahBunsayIIP

#RejekiItuPastiKemuliaanYangDicari

#CerdasFinansial

Cerdas Finansial #Day6

Posted: July 3, 2018 in Uncategorized

Ramadhan lalu, kami sekeluarga membuat sebuah project bersama berupa desain poster. Rencananya project ini akan kami programkan tiap tahun. Tema poster tahun ini adalah Petualang Ramadhan.

Petualang Ramadhan terdiri dari dua buah poster yang kami desain dan kami jual dengan sistem bundling. Poster pertama kami beri nama Ramadhan Summit berupa poster bintang yang bisa ditempel setiap harinya bila ananda sukses berpuasa pada hari itu. Poster lainnya yaitu Ramadhan Treasure Hunt berisi tentang adab-adab di bulan Ramadhan yang berujung dengan mendapat pahala dan ampunan Allah bila ananda melakukan adab-adab yang sesuai dengan sunnah dan petunjuk Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam.

Abang berperan banyak dalam project ini terutama dalam bidang pemasarannya. Abang dan abi yang mengantarkan pesanan customer, termasuk membawanya ke sekolah mengantarkan poster pesanan teman sekelasnya. Ia senang sekali berjualan poster apalagi saat teman-temannya senang mendapat bonus stiker akhlak dari abang. Kami juga sampaikan pada abang bahwa beberapa persen dari hasil jualan akan diberikan pada yang berhak. Pembagian ini kami sampaikan pada abang agar ia faham bahwa di dalam hasil perniagaan yang didapat, sebisa mungkin disisihkan untuk berinfaq. Iya, ada hak orang yang tidak mampu di dalam harta yang kita miliki. 

Begitupun dengan uang lebaran yang ia dapatkan tahun ini. Sengaja uang abang dan adik saya gabungkan. Selain agar lebih mudah mengelolanya, adik belum faham tentang arti uang jadi akan lebih baik dikelola bersama saja. Dan setelah dihitung, Alhamdulillah jumlah uang keduanya mencapai 800ribu rupiah. Dari jumlah itu, saya mengajak abang untuk membuat perincian untuk membuat pos-pos keuangan. 

Pos-pos yang kami buat masih mengacu pada kaidah 10/10/10/70. Namun kami sesuaikan pada kebutuhan saat ini. Abang sudah memasuki tahun kedua sekolah, bila selama ini abang belajar dengan menggunakan meja lipat, sudah saatnya abang membutuhkan meja belajar agar lebih nyaman untuk mengerjakam tugas sekolah. Akhirnya kami sepakat untuk membuat pos meja belajar dari uang lebaran. Karena dari sana juga akan dibuat pos untuk tabungan, investasi serta infaq, maka uangnya tidak akan cukup untuk membeli meja belajar. Akhirnya abi bantu untuk ‘patungan’ membeli meja belajar dari uang abi.

Dari uang 800rb, kami membuat perincian pos sebagai berikut:

Tabungan: 200rb

Investasi dan infaq: 200rb

Pengeluaran meja belajar : 200rb 

Pengeluaran lain-lain: 200rb

Setelah datang ke toko furniture, memilih dan melakukan negosiasi, meja belajar pun kami pesan dengan harga sebesar 550rb. Wah patungan abi lebih besar nih.. hihii.. 😅

Lalu, pos sisa pengeluarannya kira-kira akan dipakai untuk apa ya?

Well, kita lihat saja nanti 😊

#Tantangan10Hari

#Level8

#KuliahBunsayIIP

#RejekiItuPastiKemuliaanYangDicari

#CerdasFinansial

Cerdas Finansial #Day5

Posted: July 2, 2018 in Uncategorized

Pulang dari rumah nenek kemarin, abang dan adek membawa camilan berupa jajanan cukup banyak. Padahal saya sendiri lebih suka bila anak-anak dibekali dengan buah-buahan. Bila jajanan seperti ini, mereka sudah pasti anak seenaknya membuka jajanan setiap hari. Yaa.. meski jajanannya hanya berupa wafer, biskuit dan susu tetap saja mempengaruhi pola makannya. Mereka akan mudah kenyang dengan itu hingga agak sedikit makan menu utama. Berbeda bila mereka mengkonsumsi buah, mereka sangat suka buah, tapi bila makan buah tetap tidak memengaruhi selera makan mereka.

Akhirnya saya punya ide, abang sudah saya bekali dengan uang jajan hasil dari lebaran kemarin. Ia menaruhnya di dalam dompetnya. Saya melakukan roleplay, bermain peran.

” Yak, siapa yang mau jajan di warung bunda harus beli yaaa..”

“Abang mau bund! Itu s*l*i o*a* harganya berapa?”

“Ooh boleeeh.. itu seribu saja”

“Abang maunya harganya dua ribu” ujarnya dengan mimik serius sambil mengeluarkan uang dari dompetnya.

“Oh kalo uangnya dua ribu, berarti dapatnya dua..”

“Tapi abang maunya satunya dua ribu”

“Jangan, ini seribu harganya” ujarku bersikeras agar ia mengerti bahwa di luar sana amat banyak intrik dalam perniagaan, dan ia sebaiknya membayar sesuai harga saja supaya ia faham seorang pedagang itu harus bersikap jujur. 

“Kalau 2 ribu dapat dua bang.. belikan adek satunya boleh.. atau mau bunda kembalikan seribu?”

“Buat aiyra aja deh bund. Nih de!” Katanya sambil memberikan biskuit itu pada adiknya.

Alhamdulillah abang belajar proses perniagaan (lagi) dan pengelolaan uang jajan yaa.. sisa uang jajannya dimasukkan kembali ke dalam dompet.

Kira kira.. esok mau jajan apa lagi yaa?

#Tantangan10Hari

#Level8

#KuliahBunsayIIP

#RejekiItuPastiKemuliaanYangDicari

#CerdasFinansial

Cerdas Finansial #Day4

Posted: July 1, 2018 in Uncategorized

Hari ini kami mendapat undangan makan siang dari salah seorang teman. Jadilah kami berangkat pagi-pagi sekali menuju lokasi. Dikarenakan abang sejak semalam tidak enak badan, jadilah abang kami titipkan pada nenek, khawatir bila kami ajak serta malah bertambah-tambah sakitnya.

Sebelum tiba di rumah nenek, saya bertanya apakah ia ingin membeli sesuatu (jajanan) dari uangnya? Saya targetkan uang jajan untuk hari itu 10.000 per orang. Namun abang menolak, “ga usah bund..”

Tapi abi menganjurkan untuk tetap membeli jajanan saja, kalau-kalau nanti abang bosan dan menginginkan camilan. Akhirnya saya belikan dua buah susu dan satu bungkus biskuit, sedang untuk adik saya belikan satu buah susu dan biskuit. Total semuanya sejumlah Rp. 9.500, masih pengeluaran yang wajar karena hitungannya untuk berdua. Sementara sisa nya disimpan.

Alhamdulillah abang bisa belajar berhemat yaa..

#Tantangan10Hari

#Level8

#KuliahBunsayIIP

#RejekiItuPastiKemuliaanYangDicari

#CerdasFinansial